Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 022

"Semua kerinduanku dulu dan masih ada sampai sekarang adalah bahwa karena Dia memiliki banyak musuh dan sedikit sahabat, maka sahabat yang sedikit ini harus menjadi sahabat yang baik"

Meditasi adalah tahap relasi dengan Allah, di mana kita, melalui praktik kebajikan-kebajikan, mulai memperbaiki nilai-nilai yang kita hayati dan membuka diri kita secara bertahap kepada kehadiran Allah. Kita diajak untuk menyadari bahwa kita sedang berada di hadapan Allah. Salah satu dari kata-kata yang digunakan oleh Santa Teresa untuk berbicara tentang meditasi adalah kata “diskursif” (diskursif adalah kata sifat untuk menunjukkan sesuatu yang sedang berpindah atau beralih). Meditasi diskursif terjadi saat Anda menggunakan kekuatan pikiran Anda untuk mendekati misteri-misteri Allah.

Santa Teresa memiliki beberapa kesulitan dalam menjalankan meditasi diskursif.”Saya menghabiskan 14 tahun tanpa pernah mampu menjalankan meditasi tanpa bacaan” (Jalan Kesempurnaan 17.3). Doa dan bacaan berjalan bersama, khususnya saat kita mulai menjalankan doa batin (bdk. Riwayat Hidup 8.10). Beberapa orang sangat mampu menggunakan Waktu untuk berpikir tentang salah satu dari misteri-misteri iman kita. Sementara itu, beberapa orang yang lain membutuhkan bantuan untuk menjaga perhatian mereka. Bantuan semacam ini ditemukan oleh Teresa dalam berbagai bacaan.

Hal yang penting pada tahap awal “percakapan akrab” ini adalah bahwa kita tetap tinggal terbuka di hadapan Allah. Semakin kita terbuka kepada kehadiran Allah (meditasi) semakin kehidupan kita (kebajikan-kebajikan) harus sesuai dengan caraNya. Santa Teresa mengatakan dua hal untuk membantu kita mengerti persatuan antara meditasi dan kebajikan kebajikan ini: Raja ini tidak memberi diriNya sendiri kecuali kepada mereka yang memberikan diri mereka seluruhnya kepadaNya” (Jalan Kesempurnaan 16.4). “Saya mengatakan bahwa Raja Kemuliaan tidak akan tiba di jiwa kita…jika kita tidak berusaha meraih kebajikan-kebajikan yang besar.” (Jalan Kesempurnaan 16.6). Kebajikan-kebajikan besar adalah sikap saling mengasihi, kelepasan dan kerendahan hati. Apa yang perlu kita lakukan pada tahap kehidupan rohani ini?

Pertama, kita harus mengingat dua hal yang diinginkan dan diingatkan oleh Santa Teresa kepada kita: “Apa masalahnya, saat kamu berada di tangan Allah, jika seluruh dunia mencelamu!” (Jalan Kesempurnaan 16.10). “KasihNya kepada mereka yang mengasihiNya tidaklah kecil” (Jalan Kesempurnaan 16.10).

Kita berada di tangan Allah yang mengasihi kita dan memberikan diriNya bagi kita. Dan karena keyakinan itu kita bisa merasa percaya diri. Kepercayaan diri kita mengubah diri kita menuju keterarahan kepada hal yang akan ditulis oleh Santa Teresa yakni tekad.

“Apa yang akan kami lakukan bagimu ya Tuhan pencipta kami? Hampir tidak ada artinya, hanya tekad yang kecil” (Jalan Kesempurnaan 16.10).

“Adalah suatu kebaikan yang besar untuk berpikir bahwa jika kita mencoba, kita bisa menjadi orang kudus dengan bantuan Allah…marilah kita menjalankan pekerjaan kita, seperti mereka katakan…anggapan yang ingin saya lihat hadir di dalam rumah ini, karena hal itu selalu menumbuhkan kerendahan hati, adalah untuk memiliki keberanian suci; karena Allah menolong orang yang kuat dan Dia tidak memihak” (Jalan Kesempurnaan 16.12).

Kuatkanlah hatimu, tabah dan beranilah untuk menjadi seorang kudus.

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 49-50.