"Betapa jiwa sungguh memperoleh banyak hal melalui suatu pendarasan sempurna doa vokal dan betapa Allah mau mengangkat jiwa dari doa ini menuju hal-hal adikodrati"
(Jalan Kesempurnaan 25, Judul)
Santa Teresa dan Santo Yohanes dari Salib, keduanya diakui oleh Gereja dengan gelar “Pujangga Gereja Universal.” Ini berarti bahwa dua orang kudus karmel ini sangat terpelajar (doctus dalam Bahasa Latin) sehingga hal yang mereka ajarkan diterima oleh seluruh Gereja. Bahkan mereka pun diakui di luar Gereja Katolik Roma sebagai guru tentang jalan-jalan menuju roh.
Mereka berdua berbicara secara pribadi dan bersemangat tentang pertumbuhan pribadi manusia yang hidup dalam relasi dengan Allah. Mereka membawa para pembaca kepada titik tertinggi yang mungkin membuat manusia mengalami Allah. Jalan kontemplasi itu mulia, tinggi dan luhur. Aiaran mereka menegaskan kepada para pembaca dan pengikutnya tentang langkah demi langkah dan berbagai tahapan pertumbuhan di dalam doa.
Sangat mungkin untuk mengagumi mereka dan pada saat yang sama berkata kepada diri sendiri: “Ajaran ini indah tetapi bukan untuk saya.” Dan saat mengatakan hal ini, kita berpikir bahwa yang tepat bagi kita hanyalah doa vokal.
Baiklah, ajaran ini tidak hanya benar menurut ajaran sang santo dan santa. Doa vokal sangat mereka hargai dan menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dalam ajaran mereka.
Santa Teresa mendedikasikan bab 25 Jalan Kesempurnaan untuk membahas nilai doa vokal secara serius. Kata pembuka bab itu adalah:”Supaya menjauhkan kamu dari pikiran bahwa hanya ada sedikit yang diperoleh melalui suatu pendarasan sempurna suatu doa vokal, saya memberitahukan kepadamu bahwa sangat mungkin saat kamu mendaraskan Bapa Kami atau beberapa doa vokal lainnya, Tuhan bisa mengangkatmu ke dalam kontemplasi sempurna. Ini berarti Sri Baginda menunjukkan bahwa Ia mendengarkan orang yang berbicara kepadaNya.“
Santa Teresa sedang berbicara tentang “pendarasan sempurna” dari doa-doa yang kita hafal (misalnya Rosario) atau doa-doa yang kita baca (lbadat Harian). Apa yang dimaksudkannya sebagai pendarasan sempurna? Pertama, maksudnya bukanlah kesempurnaan eksternal yang berasal dari pengucapan setiap suku kata secara tepat. Maksudnya juga bukan tentang menyadari setiap kata yang kita baca dalam doa.
Saya kira apa yang dimaksudkan oleh Santa Teresa bisa ditemukan dalam penegasan bahwa doa vokal harus didampingi oleh doa batin. Dengan ini, secara sederhana ia ingin menegaskan bahwa “pendarasan” harus didampingi dengan “kesadaran. “Doa batin terdiri dari hal-hal yang dijelaskan ini: sadar dan mengetahui bahwa kita sedang berbicara, kepada siapa kita berbicara dan siapa diri kita yang berani berbicara begitu banyak kepada seorang tuan” (Jalan Kesempurnaan 25.3).
Doa batin berarti menjadi sadar tentang diri kita, tentang Allah dan menyadari bahwa saya sedang berbicara dengan Allah. Kata-kata Santa Teresa dalam paragraf yang sama: “Jangan berpikir bahwa doa adalah sejumlah mantra yang tidak dapat dipahami dan jangan biarkan nama itu menakutimu” (Jalan Kesempurnaan 25.3).
Doa vokal yang sempurna: menyadari siapa diri kita dan siapa Allah selagi kita sedang berdoa dengan kata-kata.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 76-78.