"O Tuhan, betapa berbeda jalan-jaIanMu dari bayangan-bayangan kami yang kaku”
(Pendirian-Pendirian 5.6)
Dalam buku Pendirian-Pendirian (5.6), Santa Teresa mengatakan bahwa ia selalu tertekan karena merasa tidak memiliki cukup waktu, keheningan atau kesempatan untuk jenis kehidupan doa yang ingin dihidupinya. Dan kemudian ia memberi beberapa contoh dari beberapa orang lain yang dikenalnya. Orang-orang lain ini sama dalam keinginan untuk suatu kehidupan yang serius demi melakukan doa yang intim dengan Tuhan tetapi tetap sibuk dengan kewajiban-kewajiban hidup mereka.
Ia melihat dalam dirinya frustrasi yang sama dan kemudian ia melihat dalam diri orang lain betapa sibuk mereka dan menyimpulkan: “Itulah yang tidak mungkin membuat jiwa tumbuh di tengah-tengah hiruk pikuk semacam itu” (Pendirian-Pendirian 5.6). Ingatlah betapa sibuknya seorang Teresa, yang mendirikan biara-biara, bukan hanya satu atau dua, tetapi 17 dan 16 di antaranya dibangun di bawah petunjuknya. Itu berarti juga termasuk usaha untuk mendapatkan barang-barang, memperoleh pengakuan dari lembaga sipil dan gerejani, mengawasi pembangunan dan mencari dana. Dan itu hanya untuk bangunannya. Ada juga soal untuk memperoleh biarawati-biarawati bagi ordo barunya. Selama 20 tahun terakhir kehidupannya, ia juga memperkirakan jumlah biara yang sama bagi para biarawan. Wanita yang sibuk dan guru dari doa yang sempurna.
Setelah tiba kepada kesimpulan bahwa menjadi sibuk dengan berbagai kewajiban hidup berarti menjadi tidak mampu untuk menghidupi sebuah kehidupan doa, ia mengatakan: “O Tuhan, betapa berbeda jalan-jalanMu dari bayangan-bayangan kami yang kaku” (Pendirian-Pendirian 5.6). Imajinasi kita tentang kehidupan doa mengatakan kepada kita bahwa kita hanya bisa menjalani suatu kehidupan doa, jika kita bebas dari semua kewajiban dan tanggungjawab. Kemudian kita akan bebas untuk sungguh berdoa. Tetapi apa rencana Tuhan tentang kehidupan doa? “Dari satu jiwa yang telah ditentukan untuk mencintaiMu dan diserahkan ke dalam tanganMu, Engkau tidak menginginkan sesuatu selain agar ia taat, agar ia mencari dengan baik pelayanan yang lebih beşar bagiMu agar ia ingin berbuat demikian” (Pendirian-Pendirian 5.6).
Satu jiwa…ditentukan untuk mencinta…dan…diserahkan ke dalam tanganMu” (Pendirian-Pendirian 5.6).
Tekad untuk mencinta bukanlah suatu komitmen untuk suatu perasaan atau emosi. Tekad itu adalah sebuah niat untuk bertindak dan sebuah komitmen untuk memberi diri kepada orang lain. Ide romantis yang kita miliki tentang kehidupan doa datang dari ide romantis tentang cinta yang kita miliki.
Penyerahan ke dalam tangan Allah menuntut kita untuk menyerahkan kelekatan kita untuk memiliki hal-hal dengan cara kita. Penyerahan ini bukan sebagian tetapi total. Untuk menempatkan kehidupan seseorang di dalam tangan Allah di atas segala sesuatu, menuntut bahwa kehendak saya ditempatkan di dalam tangan Allah dan bahwa jika Ia menginginkannya, saya akan menginginkannya juga.
Taat berarti melakukan hal-hal yang diharapkan untuk dilakukan secara sederhana tanpa mengeluh dan marah. Ketaatan jauh lebih berarti daripada melakukan hal yang diminta hanya kepada Anda. Saat Anda taat, Anda melakukan hal yang Anda lakukan karena hal itu diminta oleh Tuhan untuk Anda lakukan. Suka atau tidak suka adalah kategori kedua dan tidak ada hubungannya dengan kesediaan untuk melakukan.
Pelayanan yang lebih besar untuk melayani. Santa Teresa menggunakan kata “pelayanan” atau kata kerja “melayani” lebih daripada 800 kali, untuk menggambarkan jenis kehidupan rohani yang diinginkannya bagi mereka yang mengikuti ajarannya.
Apa itu doa yang sempurna? Satu jiwa, yang ditentukan untuk mencintai Allah, yang telah menyerahkan dirinya ke dalam tangan Allah dan taat kepada kewajiban-kewajiban hidup dan ingin untuk melayani Allah seperti Allah berharap untuk dilayani.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 180-182.