Apa reaksi kita terhadap fenomen pembuat ‘Mukjizat’ di zaman ini?
Fenomen tersebut sedang menjamur di dalam dunia dewasa ini. Ada tetangga kita yang tadinya biasa-biasa saja, oleh karena satu atau dua alasan, kini didatangi oleh orang-orang yang membutuhkan entah kesembuhan dari penyakit, keuntungan dalam usaha atau untuk jabatan bahkan sampai pada perjodohan.
Kita tidak perlu secepatnya mengakui atau menolaknya, melainkan mendekati dengan sikap penuh keterbukaan bahwa setiap makhluk beriman punya hak yang sama untuk dapat menerima berkat dari Sang Pencipta dengan cara-Nya sendiri. Pendekatan harus komprehensif sesuai dengan gambaran tentang hidup orang-orang yang mengalami fenomen-fenomen itu dengan kriteria-kriteria dasar: moral, teologi dan psikologinya maupun orientasi politik dan panggilan hidupnya.
Perlulah waspada dengan agenda tersembunyi dari orang-orang yang suka mengejar pengalaman mistik atau mukjizat sehingga mempolitisir atau memanipulasi nilai-nilai spiritual ke dalam kekuasaan ataupun kekayaan material.
Ciri-cirinya sebagai berikut:
Akhirnya, fenomen-fenomen mistik yang terjadi di sekitar kita bukanlah ilustrasi spiritual melainkan kenyataan yang sedang terjadi bahkan terus berlanjut sejalan dengan sikap dan tujuan yang mau dicapai oleh para penganut agama.
Mukjizat yang benar berarti, dalam perpektif Santa Teresa dari Avila: “Luka yang luarbiasa manisnya….”(PB 6,2,2). c) “Sang Kekasih mengatakan dengan jelas kehadirannya, PB 6,2,3). d) “hati terkobar oleh suatu luapan hati yang nikmat seakan-akan ada suatu aroma harum menyentuh semua panca indera. dan jiwa digerakkan oleh kerinduan yang manis untuk menikmati Dia. Jiwa merasa dirinya siap untuk melakukan karya-karya besar dan memuji Tuhan. Hendaknya kita berusaha menerima anugerah ini dengan rasa syukur”. PB 6,2,8. Mukjizat bagi Teresa dari Yesus, secara singkat karena Belas kasih Tuhan terhadap pribadi yang rendah hati, ikhlas dalam mencintai serta mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi. Atau dalam pandangan Santo Yohanes dari Salib, untuk memperoleh karunia mistik jiwa harus diproses dalam ziarah ‘Malam Gelap’.
Toh, di dunia kita ‘Mukjizat itu nyata’. Bagi orang beriman, realita mukjizat mutlak berasal dari ‘Dunia’-nya Tuhan.
Biara Karmel San Juan-Kupang
P. Sakarias Abduli, OCD