"Semua kerinduanku dulu dan masih ada sampai sekarang adalah bahwa karena Dia memiliki banyak musuh dan sedikit sahabat, maka sahabat yang sedikit ini harus menjadi sahabat yang baik"
Jalan Kesempurnaan 1.2
Satu pengingat: Santa Teresa menampilkan tiga hal penting (saling mengasihi, kelepasan dari segala ciptaan dan kerendahan hati yang sejati) agar kita bisa berdoa karena kita diciptakan untuk berdoa. Berdoa berarti menjadi sahabat Tuhan. Berdoa dengan baik berarti menjadi sahabat yang baik bagi Dia.
Bagi mereka yang berharap untuk memiliki persahabatan ini, kelepasan adalah suatu tahap penting agar orang bisa memusatkan pikiran, hati dan jiwa kita kepada Tuhan. Proses kelepasan ini tidak disebabkan oleh suatu masalah dengan hal-hal duniawi. Tantangannya adalah mendidik diri kembali agar mampu melihat segala sesuatu bukan demi sikap ingat diri atau terarah kepada diri sendiri, tetapi untuk melihat segala sesuatu dalam relasi dengan Sang Pencipta yang telah memberikan berbagai hal agar kita bisa melihat Tuhan dalam ciptaan secara lebih jelas.
Santa Teresa mengingatkan para susternya untuk tidak percaya diri jika mereka mengandalkan kepemilikan atas hal-hal lahiriah. Ia menulis:
Dengan merasa percaya diri, kamu akan serupa dengan seseorang yang dengan sangat tenang membaringkan dirinya setelah mengunci pintu karena takut kepada pencuri, sementara ia mengizinkan si pencuri untuk tinggal di dalam rumah. Dan kamu sudah tahu bahwa tak ada pencuri yang lebih buruk daripada diri kita sendiri” (Jalan Kesempurnaan 10.1). Masalah tidak berada di luar tetapi di dalam. Kita perlu menyadari sikap “memiliki untuk memiliki” agar bisa mengalami kebebasan yang dinginkan oleh Santa Teresa untuk kita miliki.
Lagi, dalam Jalan Kesempurnaan (10.3), ibu kita memperkenalkan satu “sahabat” atau “saudari” dari kebajikan kelepasan, yakni kebajikan kerendahan hati, yang tentangnya ia akan menulis banyak hal nanti. Ia memuji cara indah dua saudari ini (kelepasan dan kerendahan hati). Ia menulis:
Oh kebajikan-kebajikan yang berdaulat, pengatur kepada semua ciptaan, kaisar dunia, pembebas dari segala jerat dan halangan yang ditaruh oleh setan, kebajikan yang dicintai oleh Guru Kami Kristus yang tak pernah satu saat pun terlihat tanpa kebajikan-kebajikan ini! Siapa pun yang memiliki kebajikan-kebajikan ini bisa secara mudah pergi dan berperang dengan segala neraka serentak dan melawan seluruh dunia serta segala kesempatan berdosa. Orang itu tidak takut kepada siapa pun, karena Kerajaan Surga adalah miliknya. Ia tidak takut kepada orang lain karena ia tidak peduli jika ia kehilangan segalanya, atau tidak menganggapnya sebagai kehilangan. Satu hal yang ditakutinya adalah tidak menyenangkan Allahnya dan ia memohon kepada Allah untuk menyokongnya dalam kebajikan-kebajikan ini agar ia tidak tersesat karena kesalahannya sendiri” (Jalan Kesempurnaan 10.3).
Santa Teresa menulis hampir 500 tahun yang lalu dan pada saat itu “beberapa dari antara kita adalah para pencinta kenyamanan” (Jalan Kesempurnaan 10.5). Bisakah Anda membayangkan reaksi ibu kita ini jika ia melihat kenyamanan yang ada pada masa kita? Ia menulis kata-kata itu dalam konteks pembicaraan tentang betapa orang-orang selalu terobsesi kepada kesehatan mereka dan tentang tantangan bagi orang-orang untuk menanggung rasa sakit dengan baik.
Spiritualitas, diskusi tentang kehidupan batin, atau percakapan tentang persahabatan dengan Kristus yang menghalangi atau menghilangkan salib, sebenarnya adalah sesuatu yang kosong dan tak berguna. “Kuatkanlah hatimu para suster, agar kamu tiba untuk mati bagi Kristus, bukan untuk hidup nyaman bagi Kristus” (Jalan Kesempurnaan 10.5).
Kehidupan yang nyata berpusat kepada Kristus, bukan kepada diri kita.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 29-31.