"Semua kerinduanku dulu dan masih ada sampai sekarang adalah bahwa karena Dia memiliki banyak musuh dan sedikit sahabat, maka sahabat yang sedikit ini harus menjadi sahabat yang baik"
Jalan Kesempurnaan 1.2
Santa Teresa dalam bab-bab awal Jalan Kesempurnaan sedang mencoba membantu para pembacanya untuk memiliki pola pikir yang tepat dan cara hidup yang benar dalam menghayati kehidupan agar bisa berdoa seperti yang dialaminya dalam doa. Metode meditasi bukanlah soal yang menarik baginya. Ia ingin agar kita mengarahkan mata kita, (hati kita, jiwa kita) kepada Sang Tersalib sehingga kita hidup seperti yang seharusnya, dengan mnengikuti teladan dari hal-hal yang kita lihat dalam diri Yesus.
Sebagaimana kita tumbuh dalam cinta kasih kepada para saudara dan saudari, dalam sebuah cara pandang tentang hal-hal duniawi yang dilepaskan, dan di atas segalanya, sebagaimana kita tumbuh dalam kerendahan hati, kehidupan kita menjadi sesuai dengan Kristus. Semakin kita sesuai dengan Kristus, semakin kita mulai melihat kehidupan secara umum dan melihat kehidupan kita seperti Kristus melihatnya. Kita mengenal diri kita karena kita mengenal Kristus dan kemudian kita mulai mengenal anugerah-anugerahNya dalam kehidupan kita. Kita semakin bebas dari tekanan-tekanan untuk berada bersama dengan orang lain dan dari rasa ingin memiliki yang menahan hal-hal duniawi. Karena itu kita mengalami suatu kebebasan batin dari kebutuhan untuk hal-hal yang bersifat sampingan.
“Akal budi dan kehendak kita, yang diserahkan secara bergantian kepada kita dan kepada Allah, menjadi lebih luhur dan dipersiapkan secara lebih baik untuk setiap kebaikan” (I Puri Batin 2.1 0). Keluhuran yang muncul dari pengenalan terhadap diri kita sendiri melalui relasi kita dengan Allah membuat kita kuat. Ini hampir seperti suatu puzzle (permainan menyusun gambar): semakin Anda rendah hati, semakin Anda luhur. Dan semakin Anda luhur, semakin Anda kuat. Dunia tidak berpikir bahwa rendah hati berarti kuat.
Kita telah dibebaskan dan kebebasan terbesar yang kita alami adalah kebebasan dari diri kita sendiri. Santo Yohanes dari Salib menulis kepada seseorang yang berada di bawah bimbingan rohaninya: “Allah membebaskan kita dari diri kita. Semoga Ia memberi kepada kita hal yang berkenan kepadaNya dan tidak pernah menunjukkannya kepada kita hingga Ia berharap untuk melakukannya’ (Surat 23)
Melalui kebebasan dari diri kita yang kita raih dalam praktik kebajikan-kebajikan yang diajarkan oleh Santa Teresa kepada kita, pandangan kita disembuhkan dan sekarang kita bisa melihat seolah-olah dulu kita tidak bisa melihat. Dan hal yang kita lihat dengan jelas, mungkin untuk pertama kalinya, adalah bahwa Allah sudah selalu berada bersama kita dan telah menganugerahi kita dengan rahmat-rahmatNya. Kita tahu sekarang bahwa kerendahan hati yang palsu, suara yang mengatakan kepada kita bahwa kita tidak layak untuk rahmat-rahmatNya karena kita adalah pendosa, tidak lagi berpengaruh untuk menipu kita. Kita tahu bahwa suara itu adalah tipuan. Kita tahu bahwa kebajikan kerendahan hati yang sejati memiliki suatu nilai yang tidak bisa kita harapkan sebelum kita memulai perjalanan ini.
Jalan kerendahan hati adalah jalan yang pasti. Santo Yohanes dari Salib menulis, “Semua penampakan, pewahyuan dan perasaan surgawi, atau hal-hal lain yang membuat seseorang mungkin ingin memikirkannya, tidak ada artinya jika dibandingkan dengan serangkaian kecil kerendahan hati. Kerendahan hati memiliki akibat-akibat cinta kasih” (I Pendakian Gunung Karmel 9.4).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 42-44.