Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 087

"Bagaimana seseorang memperoleh cinta ini?"

Jika saya mencoba membayangkan hal yang saya pikirkan tentang doa yang sempurna itu seperti apa, dan saya menerima perkataan Santa Teresa tentang “cinta” yang menjadi jalan untuk membuat kemajuan, gambaran saya akan menjadi seperti seseorang yang mampu menjaga ketenangan sempurna secara eksterior dan kedamaian yang tenteram secara interior. Doa sempurna akan berarti keadaan saat saya mampu berada di atas setiap kesulitan dan mampu memusatkan perhatian, emosi dan keinginan saya tentang Allah. Ya! Itu akan menjadi doa yang sempurna, bagi saya.

Tetapi marilah melihat hal yang dikatakan oleh Santa Teresa tentang doa yang sempurna. Kita telah melihat bahwa banyak mencintai adalah kunci untuk maju. Apa artinya mencintai? “Bagaimana seseorang memperoleh cinta ini? Dengan tekad bulat untuk bekerja dan menderita dan melakukannya saat kesempatan tiba” (Pendirian-Pendirian 5.3). Apa? Bekerja? Menderita? Tekad bulat untuk bekerja dan menderita? Maksud Anda, cinta ini tidak diperoleh dengan memiliki saat-saat kedamaian dan ketenangan sepanjang hari untuk membaca dan bersantai bersama Tuhan?

Tiba-tiba setelah kalimat tentang tekad bulat untuk bekerja dan menderita ini, Santa Teresa berbicara tentang berbagai keuntungan untuk mampu menggunakan waktu untuk memusatkan perhatian kepada Tuhan dan semua yang adalah bagian dari disiplin kehidupan rohani. Sesungguhnya, kita perlu memiliki kesempatan ini. Tetapi kemudian ia mengatakan: “Tetapi harus dipahami bahwa jiwa sungguh dipersiapkan agar tidak bertentangan dengan ketaatan atau kebaikan bagi sesamanya (Pendirian-Pendirian 5.3). Saat berada di dunia ini, kehidupan rohani kita harus sesuai dengan konteks hidup seperti yang dihidupi oleh semua orang. Semua orang memiliki kewajiban dan diikat untuk menaati hukum cinta kasih yang tertinggi. Jika kewajiban itu berlaku bagi semua orang, sejauh diperhatikan oleh Santa Teresa, dua prinsip ini, ketaatan dan cinta kasih, adalah batas-batas terjadinya kehidupan rohani yang konkret.

Kehidupan rohani dijelmakan di tengah-tengah berbagai kewajiban hidup dan dihidupi di dalam cinta kasih. Doa yang sempurna yang dibimbing oleh cintakasih tidak mengecualikan kita dari kehidupan yang biasa. Tidak, doa yang sempurna terjadi di dalam kehidupan yang biasa. Santa Teresa mengatakan: “Melakukannya saat kesempatan tiba” (PendirianPendirian 5.3), Nyatalah, “Saat salah dari dua hal ini terjadi, waktu dituntut…” (Pendirian-Pendirian 5.3). Ketaatan berarti kewajiban yang dimiliki dalam kehidupan semua orang: para atasan, para pasutri, anak-anak, orangtua, pekerja, pegawai dan penguasa pemerintahan. Usaha untuk menjawab kewajiban-kewajiban ini tidak pernah mempengaruhi kehidupan doa. Dalam kenyataannya, “berdoa” dan mengabaikan kewajiban-kewajiban adalah suatu pertentangan terhadap doa yang sempurna.

Terhadap pertanyaan tentang cinta kasih atau cinta kepada sesama, ia cukup mengutip kata-kata Tuhan: “Mengesampingkan kesenangan-kesenangan tersebut demi ketaatan dan kebaikan orang lain akan memberikan kesenangan kepadaNya dan bekerja bagiNya, seperti dikatakanNya sendiri: Yang kamu perbuat bagi salah seorang saudaraku yang hina ini, itu kamu perbuat bagiKu” (Pendirian-Pendirian 5.3).

Dalam sebuah kumpulan kecil tentang pemikiran-pemikiran rohaninya yang disebut Las Exclamaciones del Alma a Dios (Seruan-Seruan Jiwa kepada Allah) atau Soliloquies, Santa Teresa menulis tentang keheningan, menghubungkan cinta kasih kepada sesama dengan keheningan dan dengan cara itu ia menunjukkan arti keheningan teresiana. Ia menuliskan pembicaraannya kepada Tuhan: “Dan melihat bahwa selagi kami menghidupi kehidupan yang fana ini, kesenangan-kesenangan duniawi itu tidak pasti, bahkan saat kesenangan-kesenangan itu tampaknya Kau berikan, jika kesenangan-kesenangan itu tidak ditemani oleh cinta kepada sesama. Barangsiapa gagal untuk mengasihi sesamanya, ia gagal untuk mencintaiMu Tuhanku, karena kami melihat bahwa Engkau menunjukkan cinta yang sangat besar yang Kau miliki bagi anak-anak Adam dengan menumpahkan begitu banyak darah” (Seruan-Seruan Jiwa kepada Allah 2.2).

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 175-177.