Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 095

"Di sini... adalah tempat cinta kasih akan terlihat: bukan tersembunyi di sudut-sudut tetapi di tengah-tengah berbagai kesempatan untuk jatuh"

Dalam buku Pendirian-Pendirian (5), Santa Teresa menggambarkan “hakikat doa yang sempurna.” Ia memperkenalkannya sebagai sesuatu yang membimbing jiwa kepada kesatuan kehendak dengan orang yang memiliki Kehendak Ilahi sedemikian sehingga orang selalu ingin melakukan hal yang diinginkan Allah untuk dilakukan. Doa sebagai suatu ide bisa saja memiliki gambaran menjadi mampu untuk berada dalam kesunyian sempurna dan santai seperti Maria di kaki Tuhan Yesus dan menyerap rahmatnya.

Meskipun demikian, Santa Teresa memperlawankan gambaran itu dengan mengatakan bahwa hal yang dilakukan seseorang karena ketaatan atau cinta kasih selalu bernilai lebih daripada berada dalam kesunyian yang membahagiakan. Dalam kenyataannya, jika ketaatan atau cinta kasih menuntut kita melakukan sesuatu yang menjauhkan kita dari kesunyian dan kita memilih kesunyian kita, maka doa itu bukanlah doa dan tidak ada rahmat bagi kita. Kita tidak memilih kesunyian tetapi isolasi. Kita akan menerima rahmat melalui hal yang dilakukan dalam ketaatan atau cinta kasih.

Halangan pertama yang paling konkret untuk mencapai substansi doa sebuah “cinta diri yang sangat sukar dikenali” (Pendirian-Pendirian 5.4). Cinta diri itu begitu sukar dikenali sehingga kita tidak mungkin bahkan tidak sadar tentang cara kita dibodohi olehnya. Kita berpikir bahwa kita lebih tahu daripada atasan kita atau bahwa hal “kudus”  yang ingin kita lakukan adalah lebih penting daripada tugas biasa yang diminta untuk kita lakukan.

Halangan kedua yang juga sukar dikenali. Halangan itu adalah sebuah keinginan untuk melakukan hal yang aman dan akan menjaga kita untuk dan keheningan. “Sebab jika jiwa takut menghina Dia, jiwa itu menemukan hiburan terbesar bila tidak berjumpa dengan apapun yang membuatnya terantuk”(Pendirian-Pendirian 5.14). Selagi Santa Teresa menggunakan banyak waktu untuk berbicara tentang cinta diri, hal yang dikatakannya dalam bagian kecil tentang halangan ini sangat mendalam.

Ingatlah hal yang dikatakannya di awal bab ini: “Kemajuan jiwa tidak bergantung dari banyak berpikir tetapi banyak mencintai.” (Pendirian-Pendirian 5.2). Lebih lanjut, ia juga mengatakan tentang tempat cinta ditemukan atau dibuktikan: “Di sini, adalah tempat cinta akan terlihat; tidak tersembunyi di sudut-sudut tetapi di tengah-tengah berbagai kesempatan untuk jatuh” (Pendirian-Pendirian 5.15). Hal itu terjadi saat kita sangat tunduk kepada kesulitan-kesulitan dan kita menahan kesulitan-kesulitan bagi Allah agar kita menunjukkan cinta kita bagi Allah dan bagi sesama. “Dan percayalah kepada saya bahwa walaupun ada kegagalan dan bahkan beberapa kerugian, keuntungan kita akan lebih besar jika dibandingkan” (Pendirian-Pendirian 5.15). Bahkan jika kita menemukan diri kita di tengah berbagai kesulitan dan tidak melakukan berbagai hal secara sempurna kita tetap akan menunjukkan cinta kita dan kita menang.

Setiap orang bisa sabar jika berada sendirian di dalam sebuah rumah. Inilah saat Anda harus datang ke suatu ruang dan bergabung dengan orang lain sehingga Anda menemukan apakah Anda sungguh sabar.

Magister novisiat saya mengatakan bahwa,”Jam doa yang paling penting adalah saat rekreasi karena dalam rekreasi Anda menunjukkan kebajikan Anda.” “Bagi orang yang selalu terpusat dalam hidup menyepi, betapapun kudus hal yang mereka pikirkan, mereka mungkin tidak tahu apakah mereka sabar atau rendah hati, mereka juga tidak memiliki alat untuk mengukur hal itu.” (Pendirian-Pendirian 5.15).

Kesunyian selalu penting dan perlu serta diinginkan, tetapi bukan sebagai bayaran atas ketaatan atau cinta kasih.

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 193-195.