Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 103

"Mereka yang melalui metode demikian bisa mengunci diri mereka di dalam surga kecil jiwa ini di mana Sang Pencipta surga dan dunia hadir"

Dari kesadaran tentang relasi dengan Allah sebagai Bapa yang telah dinyatakan oleh Putra, yang membuat kita menjadi putra dan putri Bapa, saudara dan saudari Putra, Santa Teresa segera mulai berbicara tentang hubungan antara menemukan surga di dalam diri dan doa rekoleksi.

Santa Teresa berbicara tentang doa rekoleksi dalam Riwayat Hidup (bab 14-15), Puri Batin (Ruangan Keempat bab 3) dan Kesaksian-Kesaksian (59). Doa rekoleksi, atau paling kurang kata-kata untuk memperkenalkan jenis doa ini, adalah sesuatu yang dipelajari oleh Santa Teresa dari bacaannya, secara khusus setelah ia membaca sebuah buku berjudul Abjad Rohani Ketiga karangan seorang Fransiskan bernama Fransiskus de Osuna. Santa Teresa ingin kita tahu agar kita mengerti cinta yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam kata-kata pembukanya, “Bapa Kami yang ada di surga,” kita bisa memulai dengan cepat untuk menghimpun daya-daya diri kita,

Ada tingkatan-tingkatan rekoleksi, seperti dikatakan oleh Santa Teresa dalam Jalan Kesempurnaan. Kadang-kadang ada saatnya kita dihimpun dengan lebih kuat daripada pada waktu-waktu lainnya. Penyebab perbedaan tingkatan kadang-kadang hanya berupa satu pertanyaan tentang hal yang bisa ditahan oleh badan. Sebagaimana kita maju dalam doa, kemungkinan untuk semakin memperhatian menjadi semakin besar di dalam rekoleksi. “Rekoleksi yang memperhatikan” berarti bahwa kita lebih mampu untuk memberi perhatian secara batiniah kepada Allah yang hadir. Dihimpun tidak berarti menjadi kosong. Kita tidak mengkontemplasikan ketiadaan.

“Dan Guru ilahinya datang lebih cepat untuk mengajarnya dan memberinya doa ketenangan daripada yang akan dilaluinya dengan cara lain yang mungkin digunakan. Karena terpusat di sana di dalam dirinya, ia bisa berpikir tentang sengsara dan membayangkan Sang Putra dan mempersembahkanNya kepada Bapa dan akal budi tidak lelah untuk pergi mencariNya di Gunung Kalvari atau di taman atau di pilar” (Jalan Kesempurnaan 28.4).

Santa Teresa menunjuk keadaan rekoleksi sebagai “surga kecil jiwa kita.” (Jalan Kesempurnaan 28.5). Allah ada di dalam diri kita. Saat kita mampu untuk masuk ke dalam diri kita dengan Dia, saat itulah kita berada di surga. Situasi itu bukan suatu keadaan yang permanen. Tetapi situasi itu adalah sebuah pengalaman yang bisa memiliki akibat yang bertahan di dalam keberadaan kita. Santa Teresa akan menulis lebih lanjut tentang “surga kecil jiwa kita” saat ia menulis Puri Batin 10 tahun kemudian.

Ia juga menunjukkan, seperti selalu dilakukannya, pentingnya kerendahan hati yang sejati dan kebodohan karena kerendahan hati yang palsu, “Buanglah setiap sikap pengecut yang dimiliki dan dianggap oleh beberapa orang sebagai kerendahan hati. Kamu lihat, kerendahan hati tidak terjadi dengan menolak berkat yang ditawarkan oleh Sang Raja kepadamu tetapi dengan menerima berkat yang demikian dan mengerti betapa baiknya berkat yang datang kepadamu itu dan betapa bahagia kamu karenanya” (Jalan Kesempurnaan 28.3). Menjadi pengecut berarti menjadi lemah. Kehidupan rohani bukanlah untuk menjadi pengecut. Kehidupan rohani adalah untuk kerendahan hati. Kerendahan hati menciptakan keberanian. Kehidupan rohani adalah untuk keberanian.

“Jangan menjadi bodoh; ambilah Dia di dalam sabdaNya. Karena Dia adalah mempelaimu, Dia akan memperlakukanmu dengan cara yang tepat” (Jalan Kesempurnaan 28.3)

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.210-212.