Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 105

"Arahkanlah matamu ke dalam dan lihatlah ke dalam dirimu sendiri...kamu akan menemukan Gurumu, karena Ia tidak akan mengabaikanmu"

Itulah yang telah dikatakan oleh Santa Teresa kepada kita saat ia merenungkan kata-kata pembuka dalam doa Tuhan, “Bapa Kami yang ada di surga.”

Putra yang menyatukan diriNya kepada kita sebagai saudara kita, menjadikan kita saudara dan saudarinya, menjadikan kita putra dan putri Bapa. Bapa ada “di surga.” Tetapi surga bukan sebuah tempat geografis di angkasa tempat kita harus pergi. Surga adalah sebuah tempat di dalam diri kita. Bapa ada “di surga.” Kita tidak ada “di surga.” Tetapi surga “ada di dalam kita.” Bapa ada di dalam diri kita karena di situlah surga. “Betapa sebuah hal yang mengagumkan, bahwa Ia yang akan mengisi seribu dunia dan banyak hal lain lagi dengan kebesaranNya, akan mengunci diriNya dalam sesuatu yang kecil” (Jalan Kesempurnaan 28.11).

Sungguh mengagumkan! Karena itu, menangkap kesadaran ini sangat penting untuk menutup diri kita di dalam. Tindakan melakukan hal ini terjadi dalam doa rekoleksi yang mungkin bagi semua. Inilah ajarannya bahwa kita, diri kita, tidak hanya bisa, tetapi harus menjalankan (dan terus menjalankan) doa rekoleksi agar kita bisa terbuka untuk menerima dari Allah rahmat-rahmat kehadiranNya dalam bentuk doa yang lebih tinggi. “Saya mau mengenal satu cara untuk menjelaskan cara persekutuan suci dengan Sahabat kita, Santo dari para santo, yang mungkin dialami tanpa halangan kepada kesunyian yang dinikmati di antara jiwa dan Mempelainya saat jiwa ingin memasuki surga di dalam dirinya ini untuk berada bersama Allahnya dan menutup pintu bagi semua yang duniawi. Saya mengatakan “(jiwa) ingin” karena kamu harus mengerti bahwa rekoIeksi ini bukanlah sesuatu yang adikodrati tetapi bahwa rekoleksi itu adalah sesuatu yang bisa kita inginkan dan kita capai dengan diri kita dengan bantuan Allah” (Jalan Kesempurnaan 29.4).

“Jiwa memperoleh manfaat dari rekoleksi ini melalui banyak cara…karena saya sedang berbicara hanya tentang cara doa vokal harus didaraskan dengan baik, tidak ada alasan Iain untuk berbicara banyak” (Jalan Kesempurnaan 29.5). Jika kita bisa melakukan hal ini dengan diri kita, dengan bantuan Allah tentunya, mengapa hal itu begitu sulit untuk dihimpun? Jawaban Santa Teresa: “Semua bahaya datang karena orang tidak sungguh mengerti bahwa Ia dekat, tetapi membayangkan bahwa Ia jauh” (Jalan Kesempurnaan 29.5). Tidak sungguh mengerti, Anda bisa percaya sesuatu tanpa mengerti artinya atau maksudnya bagi kehidupan Anda.

Jika kita mengatakan bahwa Allah ada di surga dan kita mengerti surga sebagai suatu tempat yang jauh dan hal itu adalah sebuah perjalanan yang sulit bagi pikiran untuk bisa “pergi” ke surga, kemudian pasti sungguh sulit untuk berdoa. Mencoba untuk membuat perjalanan itu, kita melewati banyak gangguan. Dan bahkan penting, bahwa perjalanan itu adalah perjalanan tak berguna karena surga bukan suatu tempat yang jauh. Surga adalah tempat di mana Allah berada dan Allah berada di dalam diri kita. Perjalanan doa bukan perjalanan menuju suatu tempat. Perjalanan doa terjadi di dalam diri.

Saya akan meninggalkan kata-kata terakhir Santa Teresa: “Ini saja yang ingin saya jelaskan: bahwa untuk membiasakan untuk dengan mudah menghimpun pikiran dan pemahaman kita tentang hal yang sedang kita katakan, dan dengan siapa kita berbicara, penting bahwa indra eksterior dihimpun dan bahwa kita memberikan kepada indra-indra itu sesuatu untuk menyibukkan diri. Karena sesungguhnya kita memiliki surga dalam diri kita karena Tuan Surga ada di sana” (Jalan Kesempurnaan 29.5).

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.214-216.