"Karena tidak ada yang dipelajari tanpa jerih payah, lihatlah..., demi cinta kepada Allah, Iihatlah juga perhatian yang kamu berikan kepada cara berdoa ini"
(Jalan Kesempurnaan 29.8)
Saya telah mendengar pernyataan yang dikatakan selama bertahun-tahun bahwa tidak ada cara seperti cara Karmelit. Saya tidak berpikir bahwa Santa Teresa akan setuju dengan pernyataan itu. Tentu, orang yang mengatakan bahwa tidak ada cara berdoa Karmelit bermaksud bahwa tidak ada kerumitan langkah demi langkah yang membimbing orang untuk menggunakan 30 menit atau 1 jam doa. Metode berdoa Santa Teresa yang telah digambarkannya dalam 3 bab Jalan Kesempurnaan (27-29) adalah sebuah cara untuk masuk ke dalam diri untuk berada sendiri dengan Allah yang tinggal di dalam diri. Metode ini berawal dengan doa vokal,
“Saya menyimpulkan dengan mengatakan bahwa siapapun yang berharap untuk memperolehnya, karena, seperti saya katakan, hal itu berada dalam jangkauan kemampuan kita, janganlah menjadi bosan karena terbiasa dengan hal-hal yang sudah dijelaskan” (Jalan Kesempurnaan 29.7). Poin yang dibuat dalam pernyataan ini adalah pusat untuk megerti hal yang bisa kita lakukan untuk bermeditasi. “Terbiasa dengan hal-hal yang telah dijelaskan.” Dalam Jalan Kesempurnaan (26.1), Santa Teresa telah memberikan hal-hal eksternal dasar untuk dilakukan: tanda salib, pemeriksaan batin, pernyataan tobat dan menemukan seorang rekan. Setelah bab itu, dengan hanya menggunakan kata-kata pertama dalam doa Bapa Kami, jiwa bisa maşuk ke dalam diri dan berada dengan Bapa. Ia telah memberikan motivasi dan inspirasi, khususnya untuk memusatkan perhatian kepada kata-kata Bapa dan Surga, sehingga kita boleh menemukan suatu cara untuk merasa tenanq secara interior dan berada dengan Tuhan.
Kita harus ingat bahwa kita sedang mengembangkan suatu kebiasaan, sesuatu yang menjadi suatu bagian dari cara kita memerankan diri kita dalam bahasa sehari-hari, yaitu kebiasaan untuk mengingat kehadiran Allah. “Usaha itu melibatkan suatu pertumbuhan bertahap tentang pengendalian diri dan sebuah akhir dari petualangan yang sia-sia dari jalan yang benar; itu berarti menaklukkan, yaitu menggunakan indra-indra seseorang demi kehidupan batiniah” (Jalan Kesempurnaan 29.7). “Itu berarti menaklukkan.” Kebiasaan rekoleksi ini dikembangkan secara bertahap. Kebiasaan itu menuntut disiplin, disiplin untuk menjadi seorang murid yang belajar dari Guru. Pengendalian diri sesungguhnya adalah sebuah kebebasan. Pengendalian diri adalah kebebasan dari semua hal yang membuat kita kehilangan kontrol diri. Kita tidak bisa memberikan diri kita kepada sesuatu yang memberikan diri kita sendiri kepada Allah tanpa pengendalian diri. Meninggalkan diri kepada Allah bukan berarti kehilangan kendali. Meninggalkan diri kepada Allah berarti memberikan kendali kepadaNya.
“Saya tahu jika kamu mencoba, bahwa dalam 1 tahun mungkin setengah tahun, kamu akan memperolehnya, melalui Allah. Lihatlah betapa sedikit waktu yang dicapai untuk suatu pencapaian beşar seperti ini dengan meletakkan suatu dasar yang baik. Jika kemudian Tuhan akan ingin mengangkatmu ke hal-hal yang lebih tinggi Ia akan menemukan kesiagaan di dalam dirimu menemukan bahwa kamu dekat denganNya” (Jalan Kesempurnaan 29,8). Bagi mereka di antara kita yang menjalankan meditasi dalam tradisi Karmelit dan menggunakan metode untuk mengingatkan diri kita bahwa Allah hadir dan bahwa Ia hadir di dalam diri kita; jika kita menghimpun daya-daya diri kita bahkan untuk sekejap pada berbagai waktu dalam hari, kita akan mengembangkan kebiasaan ini. Kebiasaan itu kemudian menjadi sesuatu yang kita lakukan secara alamiah. Dan kebiasaan rekoleksi menyiapkan kita untuk hal-hal lain yang diharapkan oleh Tuhan untuk diberikan kepada kita.
“Semoga berkenan kepada Sri Baginda bahwa kita tidak setuju untuk menarik diri dari kehadiranNya. Amin” (Jalan Kesempurnaan 29.8).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.218-220.