"Tuhan sekarang mulai memberi kita KerajaanNya di bawah sini sehingga kita bisa sungguh memuji dan menguduskan namaNya dan berusaha bahwa semua orang melakukan demikian"
(Jalan Kesempurnaan 31.1)
Santa Teresa telah menulis tentang doa ketenangan dalam Riwayat Hidup (bab 14-15), Ia akan menulis tentang doa ketenangan lagi saat ia menulis Puri Batin ( IV Puri Batin 1-2) 10 tahun setelah Jalan Kesempurnaan. Pengalaman doa ini adalah satu dasar dari pemahamannya tentang cara seseorang tumbuh dalam relasi dengan Allah. “Doa ini adalah sesuatu yang adikodrati, sesuatu yang tidak bisa kita peroleh dengan usaha kita sendiri” (Jalan Kesempurnaan 31.2). Sejak awal, kita telah menerima rahmat dari Allah, pengalaman itu tidak selalu dialami secara sadar. Dalam doa ini, yang tidak bisa kita usahakan, pengalaman itu sekarang nyata bagi jiwa bahwa ada sebuah pengalaman atas kehadiran Allah.
“Jiwa itu sekarang dekat dengan Allahnya” (Jalan Kesempurnaan 31.2). Jiwa sekarang dekat dengan Allah dan jiwa mengetahui bahwa ia dekat dengan Allah. Tetapi tanyakanlah kepada orang untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahuinya; mereka tidak bisa menjelaskan. Mereka tidak bisa menjelaskan tetapi mereka merasa pasti. Tidak ada penampakan dengan mata. Tidak ada yang datang melalui telinga. Tidak ada pengalaman fenomenal. Tetapi ada suatu kepastian yang tidak bisa disangkal. Terbukti! Kedamaian yang datang kepada jiwa, bahkan jika ada banyak hal yang pergi dan banyak hal yang meminta perhatian dalam kehidupan manusia.
Jiwa mengetahui bahwa Kerajaan ada di dalam dirinya dan bahwa ada Orang di dalam diri dan di dalam Kerajaan. Hanya satu hal: ketenangan ini, istirahat ini, damai ini tidak permanen. “Yang saya maksud tubuh, tidak menginginkan aktivitas. Tetapi seperti seseorang yang hampir meraih akhir perjalanannya, ia ingin beristirahat agar bisa melanjutkan dengan lebih baik; dalam istirahat ini kekuatannya untuk perjalanan digandakan” (Jalan Kesempurnaan 31.2). Ada hal lebih yang harus dilakukan untuk melengkapi perjalanan, untuk menyelesaikan hal yang harus kita selesaikan.
Karena ini adalah rasa pertama doa adikodrati dan inisiatif Allah sangat kuat, hal itu tampaknya seperti surga. “Seseorang merasakan kesenangan besar di dalam tubuhnya dan sebuah kepuasan di dalam jiwa. Ia merasa begitu bahagia hanya dengan menjadi dekat dengan mata air yang memuaskannya bahkan tanpa minum. Tidak tampak ada sesuatu yang lain yang diinginkannya” (Jalan Kesempurnaan 31.3).
Orang masih bisa mendayagunakan dan pergi menjalankan yang diminta. Tetapi orang menjalankan kewajiban itu hampir mekanis dan secara agak terganggu karena efek dari pengalaman di dalam jiwa. ‘Mereka ada di dalam puri, dekat Raja dan bahwa Ia sedang memberi kepada mereka kerajaanNya di sini” (Jalan Kesempurnaan 31.3).
Singkatnya, orang ingin berada dengan Allah. Santa Teresa mengatakan bahwa kehendak disatukan dengan Allah (Jalan Kesempurnaan 31.4). Jiwa melanjutkan pelayananannya dan pada saat yang sama ada ingatan tetap tentang Allah. “Kehidupan aktif dan kontemplatíf digabungkan” (Jalan Kesempurnaan 31.5).
“Martha dan Maria berjalan bersama” (Jalan Kesembpurnaan 31.5)
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.224-226.