Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)

Seri Spiritualitas Karmel OCD 002

Apa reaksi kita terhadap fenomen pembuat ‘Mukjizat’ di zaman ini?

Fenomen tersebut sedang menjamur di dalam dunia dewasa ini. Ada tetangga kita yang tadinya biasa-biasa saja, oleh karena satu atau dua alasan, kini didatangi oleh orang-orang yang membutuhkan entah kesembuhan dari penyakit, keuntungan dalam usaha atau untuk jabatan bahkan sampai pada perjodohan.

Kita tidak perlu secepatnya mengakui atau menolaknya, melainkan mendekati dengan sikap penuh keterbukaan bahwa setiap makhluk beriman punya hak yang sama untuk dapat menerima berkat dari Sang Pencipta dengan cara-Nya sendiri. Pendekatan harus komprehensif sesuai dengan gambaran tentang hidup orang-orang yang mengalami fenomen-fenomen itu dengan kriteria-kriteria dasar: moral, teologi dan psikologinya maupun orientasi politik dan panggilan hidupnya.

Perlulah waspada dengan agenda tersembunyi dari orang-orang yang suka mengejar pengalaman mistik atau mukjizat sehingga mempolitisir atau memanipulasi nilai-nilai spiritual ke dalam kekuasaan ataupun kekayaan material.

Ciri-cirinya sebagai berikut:

    1. Relativisme dalam segala hal: semua agama sama saja. Tidak ada prinsip tegas akan nilai-nilai kebenaran dari masing-masing agama. J. F. Lyotar dalam bukunya ‘La condision postmoderna’ mengatakan: ‘tidak ada lagi berita kebenaran’. Semua berpikir sama saja, sehingga munculah ‘pikiran yang lemah’, tanpa kesadaran akan identitas diri.
    2. Hidup abu-abu antara kewajiban dan kurban. Akibat dari selera politik religius yang tak beraturan membuat banyak penganut agama tidak ingin berkarya sesuai dengan kewajiban moral agamanya. Bagi mereka yang suka mendesakralisasi agama selalu menilai agama dan hirarkinya terlalu banyak menuntut kurban matiraga yang tidak menguntungkan baik aspek otoritas dan popularitas maupun politik dan finansial.
    3. Ada penganut agama yang menegaskan bahwa ‘hidup beragama itu sekedar bertahan hidup“. Maka, cara yang dipakai agar hidup terus bertahan adalah menjual nilai-nilai agama, termasuk fenomen-fenomen mukjizat untuk mendatangkan materi berlimpah.
    4. Indivualisme. Teknologi sudah sangat berkembang. Pengetahuan manusia pun meningkat dan mendatangkan banyak keuntungan material. Dampaknya, setiap orang dapat melakukan apa saja untuk hidupnya. Individualisme telah menjadi codex baru dalam tatanan hidup harian. Diri menjadi pusat kebanggaan. Karena itu, pengalaman akan kemurahan Tuhan tidak lagi menjadi alasan orang untuk mencari Tuhan dan sesamanya. Semua hal menonjolkan keakuan.
    5. Alfredo Fierro, dalam bukunya ‘la religion en fragmentos’ berbicara tentang <<agama yang telah redup’ dan retak, karena mayoritas kehancuran dunia adalah akibat dari perang dan politik atas nama agama.
    6. Opsi politeistis: Agama-agama monoteisme kini sudah bercampur dengan aliran-aliran politik makro seperti; marxisme, anarkisme, kapitalisme, dll. Di tambah lagi aliran-aliran yang mengambil satu doktrin atau prinsip dari satu agama tertentu untuk dijadikan ‘sekte baru“ yang populer di Jerman sebagai ‘agama cangkokan’. Opsi ini muncul sebagai perlawanan atas kekakuan agama-agama monoteisme yang banyak penganutnya cenderung: narsisme religius, menolak rasa bersalah, gnostisisme (mengagungkan pengetahuan yang diperoleh dari alam mistis, bukan dari Kitas Suci), sinkretisme religius, gurucracia (tidak ada perbedaaan antara guru yang keras dan kritis, karena tidak mementingkan nilai tetapi kehendak sendiri), praktik satanik (kejenuhan dengan ritus agama-agama yang kaku).


Akhirnya, fenomen-fenomen mistik yang terjadi di sekitar kita bukanlah ilustrasi spiritual melainkan kenyataan yang sedang terjadi bahkan terus berlanjut sejalan dengan sikap dan tujuan yang mau dicapai oleh para penganut agama.

Mukjizat yang benar berarti, dalam perpektif Santa Teresa dari Avila: “Luka yang luarbiasa manisnya….”(PB 6,2,2). c) “Sang Kekasih mengatakan dengan jelas kehadirannya, PB 6,2,3). d) “hati terkobar oleh suatu luapan hati yang nikmat seakan-akan ada suatu aroma harum menyentuh semua panca indera. dan jiwa digerakkan oleh kerinduan yang manis untuk menikmati Dia. Jiwa merasa dirinya siap untuk melakukan karya-karya besar dan memuji Tuhan. Hendaknya kita berusaha menerima anugerah ini dengan rasa syukur”. PB 6,2,8. Mukjizat bagi Teresa dari Yesus, secara singkat karena Belas kasih Tuhan terhadap pribadi yang rendah hati, ikhlas dalam mencintai serta mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi. Atau dalam pandangan Santo Yohanes dari Salib, untuk memperoleh karunia mistik jiwa harus diproses dalam ziarah ‘Malam Gelap’.

Toh, di dunia kita ‘Mukjizat itu nyata’. Bagi orang beriman, realita mukjizat mutlak berasal dari ‘Dunia’-nya Tuhan.

Biara Karmel San Juan-Kupang