"O Cintakasih yang dimiliki oleh orang-orang yang sungguh mencintai Tuhan ini dan yang mengenal kodrat mereka sendiri"
(Pendirian-Pendirian 5.5)
Ada sebuah legenda tentang Santo Antonius dari Padua, seorang Fransiskan. Suatu hari, saat ia ditugaskan untuk menjaga pintu rumah (berarti bertanggung jawab untuk melayani di pintu saat seseorang datang), lonceng pintu biara berbunyi saat ia sedang berada di Kapel bersama komunitas untuk mendoakan ibadat harian. Ia ingin berada dan menyelesaikan doanya sebelum melayani di pintu, tetapi ia pergi untuk melakukannya. Saat ia kembali ke Kapel, ia menemukan kata-kata yang dilewatkannya selagi melayani di pintu tertulis dengan tinta emas. Ia mengambil hikmah dari pesan itu bahwa pelayanannya lebih penting daripada keinginannya untuk tinggal di dalam doa.
Dalam buku Pendirian-Pendirian (5.4), Santa Teresa bertanya tentang dari mana munculnya “rasa tidak senang” saat seseorang tidak bisa berdoa dengan damai dan tenang, saat ia diganggu oleh berbagai interupsi dari luar. Dengan kata Iain, mengapa kita merasa terganggu saat sesuatu menghentikan rencana rohani kita?
Santa Teresa menjelaskan salah satu dari berbagai alasan munculnya rasa terganggu yang kita alami dengan adanya berbagai interupsi, yaitu “cinta diri” di balik motivasi untuk menginginkan suatu kehidupan rohani. Cinta diri atau kepentingan diri ini berlawanan dengan alasan Tuhan telah mengundang kita untuk menghidupi persahabatan dengan Dia. “Cinta diri ini tidak memungkinkan seseorang memahami hal yang diinginkan untuk menyenangkan diri sendiri daripada menyenangkan Allah” (Pendirian-Pendirian 5.4).
Banyak orang bergabung dalam kelompok meditasi atau Yoga, atau pergi untuk retret meditasi atau mencari guru rohani karena mereka sedang mencari suatu jalan untuk bersantai dari stress atau karena alasan-alasan yang berhubungan dengan kesehatan fisik atau psikologis. Hal itu baik jika memang hal itulah mereka cari. Tetapi hal itu bukanlah hal yang sedang kita cari.
Tuhan telah mencari kita sehingga kita bisa memberikan pelayanan yang lebih besar bagi kehendakNya demi keselamatan dunia, Santa Teresa mengatakan: “Betapa sedikit istirahat yang bisa mereka miliki jika mereka melihat bahwa mereka boleh memainkan satu bagian kecil dalam mengupayakan kemajuan jiwa mereka dan untuk lebih mencintai Allah, dalam menghibur jiwanya, atau menjauhkan beberapa bahaya dari jiwanya” (Pendirian-Pendirian 5.5). Allah telah mencari kita sehingga kita bisa menemukan Dia dan saat menemukanNya kita boleh membuatNya dikenal oleh orang lain. Penting bagi kita untuk mencari Dia dalam doa, tetapi bukan agar kita bisa duduk kembali dan santai. MengenalNya meminta kita untuk tidak beristirahat dalam usaha untuk membuatNya dikenal.
Saat melihat kebutuhan-kebutuhan dunia; “kebutuhan-kebutuhan dunia” yang saya maksudkan ini bukanlah sesuatu yang teoretis, tetapi konkret dan nyata (kebutuhan para anggota komunitas, anggota keluarga, anggota masyarakat tempat kita hidup dll). “Jiwa kehilangan kesenangannya dan menganggap kerugian sebagai keuntungan, karena ia tidak berpikir tentang kepuasan dirinya sendiri tetapi lebih tentang bagaimana ia bisa melakukan kehendak Tuhan sebaik-baiknya” (Pendirian-Pendirian 5,5). Hal-hal ini yang mungkin tampak bagi kita sebagai gangguan, sebenarnya bukan gangguan jika hal-hal itu dilihat sebagai bagian dari kewajiban-kewajiban hidup kita. Inilah hal-hal “yang berarti bagiNya” (Pendirian-Pendirian 5.5).
Kita sedang tiba di titik yang semakin dekat untuk mengerti apa itu doa yang sempurna.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 178-179.