"Saya berpendapat bahwa satu hari pengenalan yang rendah hati tentang diri sendiri sebagai sebuah rahmat yang besar dari Tuhan walaupun hari itu mungkin telah membuat kita mengalami banyak gangguan dan cobaan, daripada banyak hari untuk berdoa"
(Pendirian-Pendirian 5.16)
Jalan mudah bukanlah sebuah jalan yang mudah jika jalan itu tidak akan membimbing ke mana-mana; tidak ada pertumbuhan, pengenalan diri, kemajuan. Santa Teresa menggunakan ungkapan “berbagai kesempatan.” Yang dimaksudkannya saat menggunakan ungkapan itu adalah saat-saat kita diinterupsi oleh keinginan kita untuk memiliki suatu hidup yang damai, tenang dan teratur, Ia bermaksud bahwa saat-saat itu adalah saat kita melakukan hal yang dituntut oleh kewajiban kita untuk kita lakukan atau saat beberapa pelayanan yang kita berikan kepada sesama dalarn cintakasih menjauhkan kita dari hal yang ingin kita berikan kepada Tuhan.
Ada dua situasi yang dilihatnya: ketaatan dan cintakasih. Anda mungkin mengatakan bahwa dua kesempatan ini adalah sebuah interupsi bagi doa kita, tetapi bukan sebuah interupsi bagi kehidupan rohani dan perkembangan kita. Faktanya adalah bahwa dua situasi ini menjadi kesempatan untuk tumbuh dalam roh. Dan karena nilai kebaikan dua situasi ini tidak tergantung kepada kita, tetapi kepada Tuhan, maka pertumbuhan kita aman.
Ketaatan lebih nyata dan lebih mudah dimengerti. Berbicara tentang cinta kasih adalah satu hal, sementara secara nyata bisa berbelas kasih adalah hal lain. Tidak ada orang yang akan berbicara melawan cinta kasih. Tetapi kita bisa memiliki sebuah argumen interior tentang melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berupa cinta kasih. Kita bisa mengatakan kepada diri kita: “Itu bukan urusan saya, atau kewajiban atau tanggungjawab saya.” Untuk melakukan sesuatu bagi seseorang lain mungkin berarti bahwa kita mengatakan: “Itu pekerjaan orang lain.” Itu mungkin benar tetapi apakah itü cintakasih? Cinta kasih yang maşuk akal diukur berdasar cinta kasih, “ukuran yang kau ukurkan dengan adalah ukuran yang akan dikembalikan kepadamu” (Mat 7:2).
“Oh Allah bantulah saya, seandainya hanya kami yang mengerti betapa beşar kemalangan kami! Dalam segala sesuatu ada bahaya jika kita tidak mengerti kemalangan ini” (Pendirian-Pendirian 5.16).
Apa itü kemalangan kita? Kemalangan kita adalah bahwa kita mudah dibodohi. Dan bahaya yang nyata adalah bahwa kita mudah membodohi diri kita. Kita mampu menjadi keliru tanpa bantuan orang lain. Mulai dari Adam yang menyalahkan Hawa dan Hawa yang menyalahkan ular, kita suka menyalahkan. Tetapi kebenaran adalah bahwa kita patut dicela atas kesalahan kita sendiri. “Karena alasan itu, alangkah baiknya bagi kita bila kita diminta untuk melakukan hal-hal yang menunjukkan kerendahan diri kita” (Pendirian-Pendirian 5.16).
“Selain itu, para pencinta sejati mencintai di manapun dan selalu berpikir tentang orang yang dicintai! Akan sulit menanggungnya jika kita bisa berdoa hanya saat kita sendiri berada di sudut-sudut yang sepi” (Pendirian-Pendirian 5.16). Jika kita mencintai Allah, bahkan saat kita tidak berada di dalam kesunyian dan keheningan yang kita rasakan begitu menarik, kita masih berada di hadapan Allah. Cinta, doa, atau spiritualitas bukan soal rasa, tetapi soal tindakan. “Di sini kita melihat dengan jelas bahwa kita adalah hamba-hambaNya, kehendak kita dijual, demi cinta kepadaNya, melalui kebajikan ketaatan, karena melalui ketaatan dengan beberapa cara tertentu, kita melepaskan kesempatan untuk menikmati Allah sendiri” (Pendirian-Pendirian 5.17). Kita menunjukkan kepada Allah betapa kita mencintai Dia melalui betapa besar pelayanan kita kepadaNya.
“Dan biarkan jiwa-jiwa mempercayai saya bahwa bukan soal lamanya waktu yang dihabiskan dalam doa yang membawa manfaat bagi seseorang; saat waktu yang dihabiskan juga dalam karya baik… jiwa kemudian akan disiapkan secara lebih baik untuk suatu waktu yang singkat daripada melalui banyak waktu untuk refleksi” (Pendirian-Pendirian 5.17).
Apa itu doa yang sempurna? Melakukan kehendak Bapa. Ketaatan dan cintakasih adalah dua pemandu yang pasti untuk menempatkan kehendak saya bagi pelayanan kepada Allah. Doa yang sempurna. Cintakasih yang sempurna. Pelayanan yang sempurna.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 195-197.