"Semuanya...harus sama"
(Jalan Kesempurnaan 27.6)
Santa Teresa telah memahami relasi pribadi-pribadi di dalam Tritunggal karena ia mengalami relasi itu dalam doanya. Ia mengerti bahwa Bapa mencintai Putra di dalam Roh Kudus sehingga Putra menunjukkan cintaNya kepada Bapa melalui ketaatan kepada kehendak Bapa, “Aku telah datang untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus aku” (Yoh 4:34; 6:38).
Santa Teresa mengerti bahwa kehendak Bapa adalah agar PutraNya menjadi manusia sehingga Ia bisa menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. “Ia akan menyelamatkan umatNya dari dosa-dosa mereka” (Mat 1:21). Kehendak Bapa adalah kehendak Putra dan di dalam Roh Kudus yang selalu hadir. Kehendak itu menjadi efektif di dalam kita, para saudara dan saudari Tuhan yang menjadi anak-anak Bapa.
Santa Teresa juga mengerti akibat-akibat hubungan di dalam Tritunggal itu bagi kita, sebagaimana kita dipanggil kepada sebuah kehidupan doa atau relasi dengan Bapa, melalui Putra, di dalam Roh Kudus. Semua manusia memiliki dua hal ini secara bersamaan dan itulah yang paling memperkenalkan diri kita sebagai umat manusia. Hal pertama yang kita miliki bersama adalah kenyataan bahwa kita semua adalah pendosa. Dan hal paling sulit tentangnya adalah bahwa kenyataan itulah yang paling menyebabkan perpecahan dan paling memisahkan kita.
Hal kedua, yang kita miliki bersama adalah kenyataan bahwa kita semua ditebus oleh Kristus. Hal yang paling menakjubkan tentangnya adalah kenyataan bahwa itulah satu-satunya hal yang menyebabkan kesatuan terbesar yang mungkin terjadi di antara kita.
Dua hal ini adalah bagian dari seluruh keberadaan manusiawi. Kategori lain yang mungkin kita gunakan: kecerdasan, bakat, ras, warna kulit, kecantikan, pendidikan, posisi, kesehatan dll, tak ada satu pun dari kategori-kategori itu yang ditambahkan bersama secara lebih banyak ke dalam kenyataan yang kita miliki bersama. Saat Santa Teresa berbicara tentang perpecahan yang mungkin terjadi karena status, kelas atau derajat personal, ia menulis: “Sikap yang demikian tidak masuk di sini. Di rumah ini senangkanlah Allah, semoga di sini tidak pernah ada pikiran tentang hal itu, sebab hal itu akan menjadi neraka” (Jalan Kesempurnaan 27.6).
Dia yang membuat kita menjadi putra dan putri Bapa, membuat kita sesama saudara dan saudari untuk semua. Berbagai perpecahan yang terjadi karena kategori-kategori manusiawi adalah sebuah perlawanan terhadap misi Yesus dan kehendak Bapa. “Sri Baginda tahu hal yang akan terjadi di dunia, di mana manusia bertengkar tentang keturunan. Perdebatan-perdebatan ini dalam kenyataannya tidak banyak berbeda dengan perdebatan tentang apakah lumpur lebih baik untuk membuat batu bata atau batako” (Jalan Kesempurnaan 27.6).
“Ya Allah bantulah aku. Betapa banyak yang ada di dalam kata-kata ini yang memberimu nasihat…kebenaran adalah…bahwa Roh Kudus harus hadir di antara Bapa dan Putra dan Ia akan menyalakan kehendakmu dan mengikatnya dengan sebuah cinta yang sangat besar” (Jalan Kesempurnaan 27.7).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.206-208.