"Bapa Kami yang ada di surga. O Tuhanku, bagaimana Engkau menunjukkan diriMu sebagai bapa bagi Putra yang demikian; dan bagaimana PutraMu menunjukkan diriNya sebagai Putra dari Bapa yang demikian!"
(Jalan Kesempurnaan 27.1)
Saat Santa Teresa mengomentari kata-kata pertama Bapa Kami, kata-kata pertamanya ditujukan kepada Bapa dan pemikiran pertamanya adalah tentang Putra. Ia telah terpikat dan mengerti hubungan erat antara Bapa dan Putra yang menjadi bagian pengungkapan misteri iman yang terkandung di dalam Injil Santo Yohanes: “Bapa dan Aku adalah satu” (Yoh 10:30).
Dan lebih lagi, ia telah mengerti akibat konkret tentang persatuan Bapa dengan Putra dan persatuan Putra dengan kita, para saudari dan saudaranya dalam kemanusiaan. Keyakinan itu layak dimengerti dan kadang-kadang direnungkan serta ditangkap pentingnya memanggil Allah sebagai Bapa.
“O Putra Allah dan Tuhanku! Bagaimana Engkau memberi begitu banyak hal sekaligus dalam kata-kata pertama? Karena Engkau merendahkan diriMu sedemikian ekstrem dengan menggabungkan diriMu dengan kami dalam doa dan membuat diriMu saudara dari ciptaan yang hina dan malang, bagaimana Engkau memberikan kepada kami segalanya yang bisa diberikan dalam nama BapaMu? Karena Engkau ingin agar Ia menganggap kami sebagai anak-anakNya, karena perkataanMu tak bisa gagal. Engkau mewajibkan Dia untuk setia kepada sabdaMu, yang bukanlah suatu beban yang kecil karena dengan menjadi Bapa, Ia harus sabar terhadap kami betapapun serius pelanggaran-pelanggaran kami. Jika kami kembali kepadaNya seperti anak yang hilang, Ia harus memaafkan kami. Ia harus menghibur kami dalam berbagai pencobaan kami. Ia harus menopang kami seperti yang harus dilakukan oleh seorang bapa. Karena itu, sebagai akibatnya, Ia harus lebih baik daripada semua bapa di dunia sebab di dalam dia segalanya harus tidak bercela. Dan setelah semuanya ini, Ia harus membuat kami menjadi pembagi dan pewaris denganMu” (Jalan Kesempurnaan 27.2).
Putralah yang ingin agar BapaNya memikirkan kita, para saudara dan saudari Sang Putra, untuk menjadi putra dan putri Bapa. Putra membuat Bapa taat kepada sabda Putra. Karena Putra, Bapa harus bersabar terhadap kita, memaafkan kita jika kita sungguh menyesal, menghibur kita, menopang kita dan membuat kita ahli waris bersama PutraNya.
Kesadaran ini, bagi Santa Teresa, menggoncang bumi. “O Yesus yang baik! Betapa jelas Engkau telah menunjukkan bahwa Engkau adalah satu bersama kami dan bahwa kehendakMu adalah kehendakNya dan Kehendaknya adalah kehendakMu! Betapa jelas pernyataanMu Tuhanku! Betapa agung cinta yang Kau bawa bagi kami!” (Jalan Kesempurnaan 27.4).
Dalam pewahyuan Yesus, Santa Teresa menemukan bahwa BapaNya adalah Bapa kita, inilah alasan tertinggi untuk memperhatikan hal yang kemudian diwahyukan di dalam doa ini. Ada banyak cara di mana kita memulai doa kita: O Tuhan Allah, Allah Mahakuasa, Alah Mahaperkasa, tetapi saat Yesus sendiri mengajar kita untuk berdoa, Ia menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa. Santa Teresa mengatakan bahwa kita menerima segalanya secara segera di dalam doa ini.
“Baiklah…bukankah itu tampak bagi kamu bahwa Guru ini baik, karena untuk membuat kita menumbuhkan minat untuk mencintai dalam mempelajari apa yang diajarkanNya, Ia mulai memberi kita rahmat yang mengagumkan?” (Jalan Kesempurnaan 27.5). “Rahmat yang mengagumkan.” Kata itu, Bapa yang kadang-kadang kita sebutkan tanpa mencatatnya, adalah rahmat yang untuknya Putra datang untuk mewahyukan dan karena Ia mengorbankan hidupNya sehingga kita bisa menjadi putra dan putri Bapa, saudara dan saudari bagi sesama.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.202-204.