Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 102

”Sekarang perhatikanlah hal yang dikatakan oleh Gurumu: Yang ada di Surga”

Pembahasan Santa Teresa tentang surga adalah caranya untuk segera memperkenalkan diskusi tentang doa rekoleksi. Ia mengerti surga, bukan sebagai suatu tempat di atas langit, tetapi sebagai suatu tempat untuk dipahami dan tempat yang bahkan bisa kita temukan sekarang di bumi. “Apakah kamu berpikir bahwa tidak penting mengetahui apa itu surga dan di mana kamu harus mencari Bapamu yang Mahasuci? Baik, saya akan memberitahukan kepadamu bahwa untuk orang-orang yang pikirannya berkeliaran, sangat penting untuk tidak hanya mempercayai kebenaran-kebenaran ini tetapi untuk berusaha mengertinya melalui pengalaman, Melakukan hal ini adalah satu jalan untuk melambatkan pikiran dan menghimpun daya jiwa” (Jalan Kesempurnaan 28.1 ).

“Kamu sudah tahu bahwa Allah ada di mana-mana. Itu nyata, bahwa di mana ada raja, di sana ada istana, singkatnya, di mana ada Allah di sana ada surga” (Jalan Kesempurnaan 28.2), Lebih tepat mengatakan bahwa di mana ada Allah, di sana ada surga daripada mengatakan di mana ada surga, di sana ada Allah. Surga adalah suatu kehadiran daripada tempat.

“Apakah kamu berpikir tidak banyak gunanya bagi satu jiwa dengan sebuah pikiran yang berkeliaran untuk mengerti kebenaran ini dan melihat bahwa tidak perlu untuk pergi ke surga untuk berbicara dengan Bapa Abadi atau menemukan kesukaan dalam Dia?” (Jalan Kesempurnaan 28.2). Sangat penting untuk mengerti cara menikmati doa rekoleksi. Tidak memahami ide surga bisa membuat seseorang berpikir bahwa kita sedang mencoba berkomunikasi dengan dunia lain, sehingga “berada di surga” ibarat memindahkan diri kita ke galaksi lain.

Tidak perlu berteriak. Walaupun kita berbicara dengan lembut, Dia cukup dekat untuk mendengarmu” (Jalan Kesempurnaan 28.2). Ia dekat. Ia ada di dalam diri kita. Jika Allah hadir di dalam diri kita, kemudian karena di mana ada Allah di sana ada surga, maka surga ada dalam diri kita. Surga bukan ada “di sana”. Surga ada “di sini”. (Perhatikanlah bahwa Anda sangat layak untuk memahami kebenaran ini: Tuhan ada di dalam diri kita dan di sana kita harus berada bersama Dia.)

Ajaran Santa Teresa ini dimengerti dengan baik oleh seorang putrinya, Santa Elisabet dari Tritunggal.

“Oh Tigaku, semua milikku, kebahagiaanku, keheningan tak terbatas, kebesaran di mana aku kehilangan diriku. Aku serahkan diriku kepadaMu sebagai mangsamu. Kuburkanlah diriMu di dalam diriku sehingga aku boleh menguburkan diriku di dalam diriMu hingga aku berangkat untuk mengkontemplasikan jurang kebesaranMu di dalam terangMu” (Doa Santa Elisabet dari Tritunggal kepada Tritunggal, yang digunakan dalam Ibadat Bacaan pada hari peringatannya).

Kita tidak bisa menghimpun diri kita jika rekoleksi berarti pergi ke suatu tempat yang jauh. Tetapi rekoleksi tidak berarti pergi secara mental ke tempat lain. Rekoleksi berarti pergi ke dalam diri kita. Hal itu mungkin bagi kita. “Akal budi dihimpun secara lebih cepat dengan jenis doa ini walaupun doa itu mungkin hanya berupa doa vokal; doa itu tetaplah sebuah doa yang membawa banyak berkat. Doa ini disebut ‘rekoleksi’ karena jiwa menghimpun kemampuan-kemampuannya bersama-sama dan masuk ke dalam dirinya untuk berada dengan Allahnya” (Jalan Kesempurnaan 28.4)

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.208-210.