Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 108

"Yesus mengatakan bahwa kita bisa mengucapkan kata-kata ini yang dengannya kita meminta suatu kerajaan seperti KerajaanNya yang akan datang kepada kita: "DimuliakanIah namaMu, datanglah KerajaanMu"

Santa Teresa cukup yakin bahwa jika kita mengikuti nasihatnya untuk berdoa rekoleksi secara sederhana dengan berkonsentrasi kepada kata-kata pembuka doa Bapa Kami, sambil mengingat Orang yang mengajar kita, mengingatkan diri kita tentang kehadiranNya yang kita rayakan dan cukup sering melakukannya bahkan untuk momen singkat dalam hari, maka kita pasti mengembangkan diri ke dalam suatu kebiasaan hati dan pikiran. Dengan melakukan hal ini, dengan menjadi orang-orang yang dihimpun, maka Tuhan pasti akan menanggapi inisiatif kita dan Ia akan membawa kita kepada doa yang lebih tinggi, saat Ia ingin melakukannya.

Karena itu, setelah mengajar kita dengan doa rekoleksi, yang masih dilakukan dengan menggunakan doa vokal yang bisa kita daraskan, Santa Teresa mulai berbicara tentang awal dari doa adikodrati. Ia memperkenalkan tahapan doa se!anjutnya sebagai doa ketenangan. Ia te!ah menulis tentang tahap-tahap doa ini dalam buku pertamanya, Riwayat Hidup (11-19). Sekarang, beberapa tahun kemudian, ia kembali menulis pertumbuhan dalam doa tetapi menggunakan Bapa Kami dan strukturnya untuk melihat perkembangan yang sama.

“Engkau mengenal kami Tuhanku, bahwa kami tidak menyerahkan diri kepada kehendak Bapamu seperti Engkau. Engkau tahu bahwa Engkau perlu mengajukan permohonan-permohonan yang jelas itu agar kami bisa berhenti sejenak untuk melihat apakah hal yang sedang kami cari itu baik bagi kami, sehingga jika hal itu tidak baik kami tidak akan memintanya” (Jalan Kesempurnaan 30.2). Ia memperkenalkan bab ini dengan sebuah pengingat tentang pentingnya memperhatikan hal yang kita katakan saat kita mengucapkan doa. Kita telah berkata terus menerus tentang bagian paling mendalam dan paling indah dalam doa dari Kitab Suci dan dari para kudus. Mungkin alasan bahwa kata-kata itu tidak efektif adalah karena kita kadang-kadang kurang perhatian dan kesadaran tentang Orang yang kita tuju. Doa mengubah kehendak kita kepada kehendak Allah.

“Sekarang lihatlah, betapa besar kebijaksaanan Guru kita. Saya sedang merefleksikan di sini tentang hal yang sedang kita minta saat kita meminta kerajaan ini, dan baik bahwa kita mengerti permintaan kita. Tetapi karena Yang Mulia melihat bahwa kita tidak hanya bisa menguduskan, atau memuji atau mengagungkan, juga memuliakan nama kudus Bapa Abadi secara tepat, karena sangat sedikit yang mampu kita lakukan, Ia menyiapkan bagi kita dengan memberikan kepada kita kerajaanNya, di sini di bumi ini” (Jalan Kesempumaan 30.4). Lihatlah cara Santa Teresa menerjemahkan istilah adveniat regnum tuum,  “Datanglah kerajaanMu di dalam diri kami. Dalam Bahasa Inggris (dan juga Bahasa Indonesia) hanya dikatakan “Datanglah kerajaanMu.” Santa Teresa menggabungkan kedatangan Kerajaan Allah ke tempat ia memperkenalkan surga, yaitu di dalam diri kita.

“Jika kamu tidak akan mengatakan bahwa saya sedang menjalankan kontemplasi, permohonan ini akan memberikan sebuah kesempatan yang baik untuk sedikit berbicara tentang awal dari kontemplasi murni; mereka yang mengalami doa ini menyebutnya doa ketenangan. Tetapi karena, seperti saya katakan, saya sedang berurusan dengan doa vokal, tampaknya ada orang yang tidak mengetahui dan berpikir bahwa doa vokal tidak berjalan seiring dengan kontemplasi; tetapi saya tahu bahwa doa itu berjalan seiring” (Jalan Kesempurnaan 30.7). Sebuah ajaran jelas yang mengagumkan dari Santa Teresa! Ada beberapa orang yang mungkin memiliki suatu pemahaman sangat khusus tentang kontemplasi, bahwa entah bagaimana kontemplasi itu adalah sesuatu yang ditujukan bagi orang-orang khusus, kaum elit. Berdasarkan fakta bahwa kita bisa mengalami doa rekoleksi, kita bisa terbuka untuk mengalami kontemplasi murni saat Tuhan memberikannya kepada kita.

“Sekarang lihatlah…betapa besar kebijaksanaan guru kita” (Jalan Kesempurnaan 30.4).

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.218-220.