"Lihatlah dengan sangat cermat apakah yang kamu minta baik bagimu; jika tidak, jangan memintanya, tetapi mintalah Yang Mulia untuk memberimu terang"
(Jalan Kesempurnaan 30.3)
Santa Teresa mengatakan bahwa beberapa orang mungkin berpikir bahwa usaha untuk mempersembahkan permohonan atau permintaan kepada Allah adalah suatu pernborosan kerja karena Allah mengetahui semuanya dan sudah menyadari keperluan kita. Tetapi poin dari permintaan kepada Allah bukanlah untuk memiliki Allah yang mempertimbangkan hal yang kita perlukan, tetapi memberikan kita kesempatan untuk memeriksa hal yang kita minta. Apakah kita sungguh membutuhkan hal yang kita inginkan? Apakah kita sungguh menginginkan hal yang kita butuhkan? Dua pertanyaan itu berbeda. “Itu baik…bahwa kamu mengerti hal yang sedang kamu minta dalam Bapa Kami sehingga jika Bapa abadi akan memberikannya kepadarmı, kamu tidak akan meremehkannya” (Jalan Kesempurnaan 30.3).
Hal ini menggrisbawahi hal penting yang diberikan oleh Santa Teresa untuk memperhatikan hal yang harus kita berikan kepada yang kita ucapkan dalam doa. Kesadaran kita adalah hal yang paling menyiapkan kita untuk terbuka kepada hal yang diinginkan oleh Allah dan menerima hal yang diinginkan oleh Allah untuk diberikan kepada kita, bukan hanya sebagai tanggapan atas permintaan kita, tetapi maksudNya untuk memberikan diriNya kepada kita.
Akibat dari doa ketenangan ini adalah sesuatu yang menunjukkan kebenarannya. Ada suatu perubahan yang bisa dilihat dalam hal-hal yang berkaitan maupun tidak. Perspektif yang dimiliki oleh jiwa di dalam dirinya dan dalam dunia di sekitarnya menjadi jelas. Ada sebuah rasa kepercayaan diri yang tenang yang tumbuh di dalam diri seseorang. Tidak ada rasa ingat diri atau perasaan khusus tentang berbagai rahmat yang datang kepada orang yang mengalami doa ketenangan. Malah, jiwa berbahagia dan ingin agar orang lain berbagi pengalaman yang sama. Kasih bagi Allah yang dialami oleh jiwa jernih dan melibatkan yang berkontak dengan dia (bdk. Jalan Kesempurnaan 305).
Santa Teresa kemudian memberikan pengalaman saat ia menasihati seorang biarawati yang memiliki kesulitan waktu untuk bermeditasi. la mengatakan bahwa semua yang bisa dilakukan oleh biaravvati itu hanya doa vokal. Ia mengatakan “Saya tahu ada banyak orang yang selagi berd0a vokal, diangkat oleh Allah kepada kontemplasi tinggi (tanpa usaha mereka atau tanpa mengerti caranya. Karena itulah saya sangat menekankan hal ini… mendarasan doa vokal dengan baik)” (Jalan Kesempurnaan 30,7). Biarawati yang dipakainya sebagai contoh merasa bahwa ia tidak mungkin berdoa kecuali mengucapkan doa vokalnya. Santa Teresa mengatakan tentang dia: “Maunya doa mental kita begitu baik” (Jalan Kesempurnaan 30.7).
Santa Teresa berbicara kepada para biarawati. Ia melihat bahwa walaupun ia hanya mendaraskan Bapa Kami berkali-kali, “ia mengalami kontemplasi murni.” Apa yang diperiksa oleh Santa Teresa dalam diri biarawati ini untuk menentukan kedalaman kehidupan rohani yang sedang dihidupinya? “Dan dari tindakan-tindakannya itu sungguh tampak bahwa ia sedang menerima berbagai rahmat yang besar, karena ia sedang menghidupi suatu kehidupan yang baik. Karena itu saya memuji Tuhan dan iri kepadanya karena doa vokalnya” (Jalan Kesempurnaan 30.7).
Santa Teresa di akhir bab 30 mengatakan bahwa ia akan tetap berbicara tentang doa ketenangan. Kemudian, dengan kepolosan orang-orang jujur, ia mengatakan: “Siapapun yang tidak ingin mendengarkannya dapat melewatkannya” (Jalan Kesempurnaan 30.7).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.222-224.