Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 084

"Apa yang engkau minta dan kemudian engkau cari wahai jiwaku? Ini semua adalah milikmu dan semua untukmu. Jangan melibatkan dirimu sendiri dalam sesuatu yang kurang atau memperhatikan remah-remah yang jatuh dari meja Bapamu. Pergilah dan bersukarialah dalam Kemuliaanmu. Sembunyikanlah dirimu di dalamnya dan bersukacitalah dan engkau akan memperoleh permohonan hatimu"

Pada akhir doa ini jiwa memperoleh beberapa kesimpulan berdasarkan hal yang telah dipelajarinya dari perjalanan meditasinya.

Pertama, rasa syukur. “Ini semua adalah milikmu dan semua untukmu” (Ucapan-Ucapan tentang Cahaya dan Cinta 27). Dalam Madah Rohani, Santo Yohanes dari Salib mengamati: “Ingatlah di sini semua belas kasih dan sadarilah bahwa jiwa telah ditempatkan dengan martabat yang begitu tinggi untuk berada dekat dengan Sang Mempelai, jiwa bersukacita tak terukur dalam kesukaan atas syukur dan cinta. Ingatan tentang keadaan sebelumnya, yang tak sedap dipandang dan hina, khususnya menunjukkan syukur dan cinta ini” (Madah Rohani 33.2).

Kesimpulan kedua dari jiwa yang sadar tentang kehormatannya. “Jangan melibatkan dirimu sendiri dalam sesuatu yang kurang” (Ucapan-Ucapan tentang Cahaya dan Cinta 27). Lagi, dalam Madah Rohani, Santo Yohanes dari Salib berbicara tentang akibat dari kehadiran Allah yang dirayakan di dalam jiwa. “Allah mengkomunikasikan diri kepada jiwa tentang banyak hal besar tentang diriNya, mempercantiknya dengan keagungan dan kemuliaan, menghiasinya dengan berbagai anugerah dan kebajikan dan menyelimutinya dengan pengetahuan dan kehormatan Allah, seperti sang tunangan yang diselimuti pada hari pertunangannya” (Madah Rohani 14 dan 15.2). Kesadaran atas identitas sejati ini datang kepada jiwa selalu dengan pemahaman bahwa hal itu datang dari Allah. Karena di sana tidak ada bahaya kesombongan atau arogansi roh.

‘Pergilah dan bersukarialah dalam Kemuliaanmu. Sembunyikanlah dirimu di dalamnya dan bersukacitalah.” (Ucapan-Ucapan tentang Cahaya dan Cinta 27). Apa itu kemuliaan ini? Dan mengapa ditulis dengan huruf kapital? Dalam Madah Rohani, Santo Yohanes dari Salib dengan jelas mengungkapkan tentang kemuliaan sejati kita dan mengapa kemuliaan itu menjadi penyebab untuk bersukacita:

“Jiwa-jiwa memiliki kebaikan yang sama melalui keikutsertaan yang dimiliki oleh Putra secara kodrati. Sebagai hasilnya, jiwa-jiwa itu sungguh baik melalui partisipasi, menjadi setara dan menjadi sahabat-sahabat Allah… Jiwa akan ikut serta dalam Allah sendiri dengan menampilkan diri dalam Dia, dalam persekutuan dengan Dia, karya Tritunggal Mahakudus karena persatuan hakiki antara jiwa dan Allah” (Madah Rohani 39.6).

“O jiwa yang diciptakan untuk kebesaran-kebesaran ini dan dipanggil kepadanya. Apa yang sedang kau lakukan? Bagaimana kau sedang menggunakan waktumu?” (Madah Rohani 39.7).

Doa ini telah membantu kita mengenal “permohonan-permohonan” hati kita. Kita mengalami sebuah kekurangan damai yang pasti yang membuat kita melihat sesuatu yang “lebih.” Sesuatu yang lebih itu adalah “lebih” yang bisa memuaskan kita di dalam Allah sendiri.

Apa yang tampak sebagai “jatuh cinta?” “Satu jiwa yang dinyalakan dengan cinta adalah jiwa yang baik, lembut, rendah hati dan sabar” (Ucapan-Ucapan tentang Cahaya dan Cinta 29).

Saya kira bahwa dengan memahami doa ini kita bisa mengerti dengan lebih baik ajaran Santo Yohanes dari Salib. Jika kita tahu betapa besar harapannya bagi kita, kita bisa mengerti dengan lebih baik tuntutan-tuntutan dalam bimbingan rohaninya.

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 169-171.