Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 093

"Saya percaya bahwa, karena setan melihat tidak ada jalan yang membimbing secara lebih cepat kepada kesempurnaan tertinggi selain ketaatan, ia mengatur banyak gangguan dan kesulitan dalam wujud kebaikan"

Santa Teresa mendiskusikan kebajikan, kaul dan janji ketaatan dalam buku Pendirian-Pendirian (5.10-13) melalui berbagai istilah yang sangat jelas, kuat dan mewajibkan.

“Tidak ada jalan lain yang membimbing secara lebih cepat kepada kesempurnaan tertinggi selain ketaatan.” Secara lebih cepat daripada kontemplasi? Ya, lebih cepat daripada kontemplasi.

Demi kejelasan, semua kita, tidak hanya para religius yang diikat dengan kaul ketaatan kepada atasannya, tetapi kita semua diwajibkan untuk taat karena dalam setiap panggilan hidup ada berbagai kewajiban yang mengikat kita. Kebajikan, kaul dan janji mempertinggi dan membuat mulia kerelaan kita dengan kewajiban-kewajiban kita. Kewajiban para pasutri, orangtua atau anak, kewajiban orang yang melajang, kewajiban pegawai dan pekerja, kewajiban warga negara, kewajiban biarawan-biarawati, entah sebagai atasan dan bawahan, kewajiban imam diosesan, semua kewajiban ini dikuduskan oleh ketaatan. Melakukan hal yang diharapkan dilakukan adalah jalan tercepat menuju kepada kekudusan.

Karena demikian, Santa Teresa dengan bijaksana menyoroti betapa mudahnya jiwa dibodohi oleh setan “dalam wujud kebaikan.” Setan tidak mencobai orang baik dengan kejahatan, Ia mencobai mereka dengan kebaikan, khususnya jika ada kebaikan yang bisa membuat kita menjauh dari hal yang diharapkan dilakukan. Hal yang diharapkan dilakukan sering membosankan atau monoton. Penggoda tahu bahwa kita menginginkan sebuah kehidupan rohani, karena itu ia mencobai dengan sebuah hal baik yang akan mengganggu kita untuk setia kepada kebosanan lama yang akan membuta kita menjadi kudus.

Ingatlah bahwa Santa Teresa sedang menjelaskan cara cinta diri membuat kita tidak puas denqan jalan yang diinginkan oleh Tuhan untuk dilalui. Cinta diri membuat kita memilih sebuah jalan yang lebih dihargai oleh diri kita. Tujuan akhir kehidupan rohani adalah menundukkan kehendak kita kepada kehendak Allah, melakukan hal yang dikehendaki oleh Allah. “Karena usaha menundukkan diri ini tidak dicapai dengan penalaran akal budi; kodrat manusia dan cinta diri bisa menemukan banyak alasan sehingga kita tidak akan mencapai tujuan. Dan sering hal yang paling masukk akal bagi kita tampak sebagai sesuatu yang bodoh jika hal itu tidak menguntungkan kita” (Pendirian-Pendirian 5.11). “Jika hal itu menguntungkan kita” artinya jika kita tidak menyukainya.

Bagaimana penggoda menjebak kita dengan kebaikan? Satu hal yang akan diberitahukan kepada kita adalah bahwa karena doa itu baik bagi kita, kita harus memiliki waktu untuk berdoa dan menunda makan malam, atau tiba terlambat di tempat kerja, atau melakukan sesuatu yang rohani di tempat tanggungjawab kita. Tetapi hal itu tidak akan sungguh bekerja sebagai suatu cobaan. Caranya untuk bisa menjebak kita adalah dengan membuat kita merasa bersalah karena tidak memiliki waktu untuk berdoa, karena pekerjaan yang harus kita lakukan. Membuat kita merasa bersalah karena melakukan hal yang seharusnya tidak kita lakukan sebagai pengganti doa, seolah kita akan suka melakukannya. Itulah suatu jebakan setan yang sempurna. Tujuannya adalah membuat kita tidak bahagia.

Ketaatan, menurut saya, adalah jalan tercepat atau terbaik untuk mencapai kebahagiaan ini” (Pendirian-Pendirian 5.11)

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 189-190.