"Tetapi cinta memiliki kekuatan ini jika cinta itu sempurna, karena kita lupa untuk menyenangkan diri kita demi menyenangkan orang yang kita cintai"
(Pendirian-Pendirian 5.10)
Dalam buku Pendirian-Pendirian, Santa Teresa menceritakan suatu kisah yang datang dari pengalaman Santo Yohanes dari Salib. Saat Santo Yohanes dari Salib hidup di Sevilla, pada suatu petang ia kembali dari pewartaan dan pelayanan sakramen tobat dan merasa lelah. Ia melihat ke depan untuk beristirahat. Ia berjumpa dengan atasannya saat ia datang, dan atasan itu memintanya untuk pergi bekerja di taman. Walaupun ia lelah, ia tidak mengatakan sepatah kata pun selain pergi ke taman. Melalui cara ini, ia memiliki pengalaman berjumpa dengan Tuhan yang memikul dan ia mendengar Tuhan berkata kepadanya: “Apa yang kau minta dariku?” Santo Yohanes dari Salib menjawab, “Menderita dan direndahkan demi Engkau” (Pendirian-Pendirian 5.9).
Santa Teresa membuat satu pengamatan tentang kisah ini. Ia mencatat bahwa: “Ia tetap diam, walaupun secara manusiawi ia sungguh terganggu, karena ia tidak bisa menahannya.” (Pendirian-pendirian 5.9). “Secara manusiawi ia sungguh terganggu,” berarti ia terganggu, kecewa, marah, frustrasi dll. Ia tidak menyukainya! Anda tidak bisa menahan reaksi-reaksi manusiawi Anda, tetapi Anda dapat menahan hal yang Anda lakukan terhadap reaksi-reaksi itu. “Ia tetap diam.” Ada banyak situasi mengganggu yang tak bisa dihindari di dalam kehidupan semua orang. Kedewasaan rohani membuat orang menerima situasi dan menjalaninya, biasanya ia juga mempersembahkan kepada Allah ketidaknyamanan, sambil mengingat betapa besar Tuhan telah menderita bagi kita.
Dalam paragraf selanjutnya, Santa Teresa, setelah memuji kebebasan yang ditemukan dalam ketaatan, menyisipkan sebuah kalimat panjang yang penuh dengan kebijaksaan praktis tentang kehidupan rohani yang dihidupi secara biasa. Pantaslah untuk membaca kalimat ini beberapa saat.
Ia menulis: “Kesempurnaan tertinggi jelas tidak terletak dalam kesenangan-kesenangan interior atau dalam pesona-pesona ilahi yang besar atau dalam berbagai penampakan atau dalam roh kenabian, tetapi dengan berusaha menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah sehingga tidak ada sesuatu yang kita tahu dikehendaki oleh Allah Yang tidak kita kehendaki, dan dengan menerima peristiwa pahit secara bahagia seperti kita menerima hal yang menyenangkan saat kita tahu bahwa Sri Baginda yang menginginkannya” (Pendirian-Pendirian 5.10).
Kadang-kadang kenyataan itu tidak begitu nyata. Kita masih bisa terganggu oleh gambaran ideal tentang kedamaian, keheningan, gambaran kontemplasi yang mengatakan kepada kita: Inilah kesempurnaan! Doa yang sempurna. Ketaatan. Kesempurnaan tertinggi. Melakukan kehendak Allah karena itu memang kehendak Allah. Itulah cara menjadi orang kudus.
Satu catatan penting lainnya adalah kata-kata terakhir, “Saat kita tahu bahwa Sri Baginda yang menginginkannya.” Bagaimana kita tahu bahwa Allah menginginkannya? Saat hal itu sesuai dengan kewajiban-kewajiban hidup kita (ketaatan) atau saat hal itu dilakukan oleh karena hukum cinta kasih yang sempurna, sehingga Allah menginginkannya. Allah tidak menginginkan penderitaan yang tak berguna.
Tantangan bagi kita adalah merasa puas, bahkan saya boleh mengatakan, merasa bahagia bahwa inilah cara kepada kekudusan. Ingatlah bahwa ini adalah bagian dari penjelasan Santa Teresa tentang alasan kita merasa tidak bahagia dalam menghidupi kehidupan rohani, dan dia sedang berbicara tentang cinta diri yang membuat kita berpikir bahwa itulah cara kekudusan yang lebih damai, kedamaian yang romantis.
Santa Teresa mengatakan bahwa inilah jalan kesempurnaan tertinggi “sangat pasti, sangat terkenal dan sangat sederhana sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk berbicara lama tentang hal itu” (PendirianPendirian 5.10). Ia sangat yakin bahwa itulah kekudusan.
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 186-188.