Copy of Seri Spiritualitas (1280 x 720 px)(1)

Renungan Karmelitana 099

"Sekarang marilah kita kembali kepada doa vokal kita sehingga saat doa iTu mungkin didaraskan tanpa kita sadari, Allah bisa memberikan kita semuanya sekaligus..."

Sejauh yang saya tahu, satu-satunya “metode” yang pernah diberikan oleh Santa Teresa untuk bermeditasi adalah: “Seperti sudah diketahui, pemeriksaan batin, penyesalan dan tanda salib harus dibuat lebih dahulu. Kemudian, putri-putriku, karena kamu sendirian, berusahalah untuk menemukan rekan” (Jalan Kesempurnaan 26.1 ). Itu saja. Itulah struktur yang ditampilkannya.

  1. Pemeriksaan Batin
  2. Pernyataan Tobat
  3. Tanda Salib dan
  4. Menemukan Rekan.

“Karena kamu sendirian…temukanlah seorang rekan.” Secara nyata tidak ada rekan yang lebih baik selain menemui Yesus Tuhan. Ada banyak rujukan kepada kemanusiaan Kristus di dalam tulisan Santa Teresa, “kemanusiaan yang paling suci,” Karena kemanusiaanNya, Ia tampil kepada kita manusia sebagai rekan dan guru, “Siapa rekan yang lebih baik daripada Guru Yang mengajarkanmu doa ini?” (Jalan Kesempurnaan 26.1 )

Menjaga Kristus tetap hadir, tindakan tentang kehadiran Allah dari Saudara Laurensius, adalah hal yang kita bisa dan harus lakukan jika kita mau membuat kemajuan dalam doa. Santa Teresa menekankan ini. “Mereka di antara kamu yang tidak bisa melibatkan diri dalam berbagai refleksi diskursif dengan akal budi atau menjaga pikiranmu dari gangguan, gunakan tindakan ini! Lakukanlah ini!” (Jalan Kesempurnaan 262). Saya hampir bisa membayangkan bahwa Santa Teresa menggebrak meja dan berkata, “Lakukanlah ini!

Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia setia kepada kita. “Jika kita dengan rendah hati meminta persahabatan ini kepadaNya, Ia tidak akan menolak kita” (Jalan Kesempurnaan 26.2). Doa vokal akan lebih cepat mengantar kita kepada doa tertinggi jika kita secara tetap berada dalam persahabatan dengan Seseorang yang mengajar kita untuk berdoa. Inilah kebiasaan yang diinginkan oleh Santa Teresa untuk kita miliki, berada di hadapan Tuhan.

“Karena kamu sendirian, temukanlah rekan!” Lihatlah kepadaNya! Dia sedang menatap kita. “Sesuai dengan ukuran kamu mendambakan Dia, kamu akan menemukanNya. Ia begitu menghargai usaha kita untuk berbalik dan menatapNya sehingga tidak ada kecermatan yang akan kurang dari diriNya” (Jalan Kesempurnaan 26.3). Menerima kebiasaan ini untuk mengingatkan diri kita pada setiap saat kita berada di hadapan Allah adalah sebuah kebiasaan yang tidak hanya membantu kita dalam mengucapkan doa secara baik, tetapi juga membantu kita untuk hidup dengan baik.

“Marilah kita berjalan bersama Tuhan. Di mana pun Kau pergi, saya akan pergi. Apapun yang Engkau tanggung saya akan menanggungnya” (Jalan Kesempurnaan 26.6). Bagaimana Santa Teresa menasihati kita untuk menjaga diri kita untuk tetap sadar di hadapan Allah? “Apa yang bisa kamu lakukan sebagai sebuah bantuan dalam hal ini adalah mencoba untuk membawa serta sebuah gambar atau lukisan Tuhan yang menyenangkanmu, bukan untuk dibawa di dada dan tidak pernah dilihat tetapi seolah untuk sering berbicara dengan Dia” (Jalan Kesempurnaan 26.9). Skapulir, salib dalam sebuah rantai rosario di saku, kartu suci di dompet, hal-hal ini adalah beberapa hal yang sering dan bisa digunakan untuk mengingatkan diri kita bahwa kita berada di hadapan Allah.

Santa Teresa menutup kata-katanya dengan memberi kita keberanian yang kita perlukan untuk bisa mengerti doa Tuhan ini: “Pikirkanlah kata-kata yang diucapkan oleh mulut ilahi, karena dalam kata pertama karnu akan segera mengerti tentang cinta yang dimilikiNya bagimu; cinta itu bukan berkat kecil dan adalah anugerah bagi murid untuk melihat Guru yang mencintainya” (Jalan Kesempurnaan 26.10).

Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.202-204.