"Pertama, saya ingin berbicara, sesuai pemahaman saya yang sedikit, tentang hakikat doa yang sempurna"
(Pendirian-Pendirian 5.2)
Sebelum menguraikan hal yang ditulis oleh Santa Teresa tentang doa yang sempurna, kita perlu melihat sesuatu yang dikatakan olehnya dalam paragraf pertama. Ia mengakui bahwa ada banyak jalur di mana seseorang bisa berdoa. Ia tahu bahwa ada banyak sekolah doa di dalam Gereja. Dalam pengalamannya sendiri, ia berkonsultasi dengan para Dominikan, Jesuit dan Fransiskan. Setiap keluarga religius ini memiliki cara dan tradisi doa mereka sendiri. Ia belajar banyak dari mereka dan memuji mereka atas terang yang telah diperolehnya. Dan ia menempa caranya sendiri.
Setelah mendirikan gerakan pembaharuan ordo karmel bagi biarawan, ia tidak lagi berkonsultasi dengan ordo atau konggregasi lain. Hal yang ditulisnya adalah sebuah jalan atas pemahamannya terhadap hal yang diinginkan oleh Tuhan darinya. Ia telah menulis dalam kata pembuka Jalan Kesempurnaan bahwa yang sedang diajarkannya adalah jalan yang “tepat” bagi biara-biaranya. Karena itu, ia mengakui bahwa tidak semua orang akan bisa mengikuti hal yang diajarkannya. “Jika mereka yang tidak berjalan di jalur yang sedang saya bicarakan tidak mengerti hal yang saya katakan, itu terjadi karena mereka berjalan di jalur yang lain” (Pendirian-Pendirian 5.1 ). Hal itu terjadi bukan karena mereka salah, tetapi karena jalur mereka berbeda.
Pentingnya sikap ini menjadi nyata saat melihat panggilan (jalur) mana yang diikuti. Jika seseorang berharap untuk mengikuti spiritualitas lain selain spritualitasTeresa-Sanjuanista, maka jalan yang mereka ikuti bukan jalan karmelit tak berkasut. SantaTeresa dan Yohanes dari Salib juga Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus adalah para Pujangga Gereja Universal. Banyak orang di dalam Gereja mengikuti ajaran mereka. Meskipun demikian, tidak semuanya memiliki suatu panggilan untuk mengikuti kehidupan yang mereka susun.
Dalam beberapa hal, lagi, Santa Teresa menunjukkan keterbukaannya terhadap jalan-jalan Roh Kudus. Jika hal yang dikatakannya tidak masuk akal, hal itu terjadi karena pembaca sedang mengikuti jalur yang berbeda.
Doa yang sempurna! Pernyataan itu tampaknya seperti sebuah topik besar untuk dihadapi. Apa itu doa yang sempurna?
Pertama, ia berbicara tentang sesuatu yang telah dia tuliskan dalam Riwayat Hidup dan Jalan Kesempurnaan, yang disebut, meditasi diskursif yaitu meditasi yang dilakukan dengan pikiran dan penalaran. Karena telah menjelaskan topik ini, ia tidak menjelaskannya Iagi di bab ini. mengatakan adanya ide bahwa jika Anda bisa menyibukkan pikiran Anda untuk suatu periode waktu yang baik, berarti Anda mengetahui cara berdoa. Dan sesuai ide itu, jika Anda tidak bisa melakukannya, berarti anda tidak tahu cara berdoa. Kelompok pertama berpikir bahwa mereka adalah orang-orang rohani, sementara kelompok kedua berpikir bahwa mereka bukan orang-orang rohani.
Santa Teresa, melalui pengakuannya sendiri, tergabung dalam kelompok kedua. Itulah pengalaman pergulatan yang terjadi saat ia mencoba bermeditasi selama bertahun-tahun untuk menemukan caranya sendiri. Pengalaman ini membimbingnya kepada kesimpulannya yang terkenal: “Bagaimanapun, harus dimengerti bahwa tidak semua imajinasi menurut kodratnya mampu untuk meditasi ini, tetapi semua jiwa mampu mencintai” (Pendirian-Pendirian 5.2). Tidak semua orang mampu untuk meditasi diskursif, tetapi semua orang mampu mencintai. Karena itu “Kemajuan jiwa tidak terletak dalam banyak berpikir tetapi dalam banyak mencintai” (Pendirian-Pendirian 5.2).
Kemajuan dibuat dalam kehidupan rohani dengan banyak mencintai. Meskipun demikian, kita masih belum tiba kepada jawaban atas pertanyaan: apa itu doa yang sempurna?
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 173-175.