"Hal yang hendak saya jelaskan adalah mengapa ketaatan, menurut saya, adalah jalan tercepat atau terbaik untuk mencapai kebahagiaan ini"
(Pendirian-Pendirian 5.11)
Mengapa ketaatan adalah jalan tercepat untuk mencapai “kebahagiaan ini” dan bukan kontemplasi? Ingatlah bahwa Santa Teresa sedang berbicara dalam konteks jebakan cinta diri. Ia memberikan jawaban: “Alasannya adalah berhubung bagaimanapun juga kita adalah tuan atas kehendak kita, maka kita dapat menggunakannya secara murni dan sederhana dalam Allah, ketaatan adalah jalan yang benar untuk menundukkan akal budi” (Pendirian-Pendirian 5.11)
Menundukkan diri kita kepada ketaatan, memenuhi kewajiban-kewajiban kita dan tidak melakukan kehendak kita sendiri, tetapi kehendak atasan atau kewajiban yang kita dapatkan dari keluarga kita, pekerjaan kita, dll, adalah jalan yang olehnya kita mengalahkan cinta diri yang menginginkan segalanya dan menginginkan agar semua orang melakukan “cara saya.”
Saya tidak tahu apakah Santo Yohanes dari Salib mempengaruhi Santa Teresa atau Santa Teresa yang mempengaruhi Santo Yohanes dari Salib. Tetapi kepatuhan kita kepada penilaian orang lain atau kepada akal budi, adalah satu titik kritis dalam ajaran mereka, “Inilah sifat orang-orang yang rendah hati: mereka tidak berani berhubungan dengan Allah secara mandiri (saya memutuskan dengan cara saya karena inilah yang saya inginkan untuk dilakukan/percaya-cinta diri), atau juga mereka tidak bisa secara sempurna puas tanpa nasihat dan bimbingan manusia. Allah menginginkan ini, untuk menyatakan dan menguatkan kebenaran atas dasar akal budi alamiah, ia menarik mereka yang datang bersama dalam suatu usaha untuk mengenalnya” (II Pendakian Gunung Karmel 22.11). Dan lagi, Santo Yohanes dari Salib menggambarkan seseorang yang dibutakan oleh nafsu-nafsunya (cinta diri) dengan berkata: “Dengan cara ini, akal budi seseorang, dihalangi oleh nafsu-nafsu, menjadi gelap dan menghalangi matahari atau akal budi alamiah atau kebijaksanaan adikodrati Allah untuk menyinari dan meneranginya secara sempurna (I Pendakian Gunung Karmel 8.1 ).
“Begitu banyak yang bisa dikatakan di sini bahwa kita tidak akan selesai berhubungan dengan pergulatan batin ini dan semua yang dilakukan oleh setan, dilakukan oleh dunia dan indra-indra kita sendiri untuk membuat kita memutarbalikkan akal budi kita” (Pendirian-Pendirian 5.12). Rekan dari cinta diri adalah kehendak diri. Dunia, daging dan setan menggunakan ini sebagai alat utama untuk membuat kita berpikir bahwa yang kita pikirkan harus benar atau hal yang kita lakukan adalah hal yang diinginkan oleh Allah untuk kita lakukan. Cinta diri yang membuat cara yang membimbing ke tiada tempat tampaknya menjadi jalan surgawi. Kita dengan mudah menjadi budak cara kita. Karena tak seorang lain pun sedang berjalan di jalan itu, kita sendirian dan frustrasi saat atasan, atau keluarga, atau boss tidak setuju dengan cinta diri kita atau kehendak diri kita. Kita benar dan orang lain salah!
“Lelah berdebat, jiwa kita menerima seseorang yang mungkin adalah atasan atau bapa pengakuan dengan keputusan untuk tidak lagi berdebat atau untuk berpikir lagi tentang masalahnya sendiri tetapi untuk mempercayai kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan, ‘Barangsiapa mendengarkanmu, ia mendengarkanKu’ dan jiwa kita tidak mengindahkan kehendaknya sendiri” (Pendirian-Pendirian 5.12). Dengan menyerahkan diri kepada ketaatan, kita menjadi tuan atas diri kita sendiri. Dengan penyerahan diri ini kita bisa menyerahkan diri kepada Allah. ‘Tuhan sangat menghargai penyerahan diri ini dan pantaslah demikian, karena penyerahan diri seperti itu berarti membuat Dia menjadi tuan atas segala kehendak bebas yang telah diberikanNya kepada kita” (Pendirian-Pendirian 5.12).
Cinta diri membuat kita menjadi tuan bagi Tuhan. Cinta diri itu tidak akan bekerja “Semakin kita taat kepada manusia, dengan tidak memiliki kehendak lain selain kehendak atasan kita, semakin kita akan menjadi tuan atas kehendak kita, sehingga kita dapat menyesuaikannya dengan kehendak Allah” (Pendirian-Pendirian 5.1 3).
“Semoga yang Mulia berkenan bahwa saya bersikap sesuai dengan hal yang saya pahami” (Pendirian-Pendirian 5.13).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm. 189-190.