"Jika kita berusaha, melaksanakan rekoleksi ini selama beberapa hari dan membiasakannya, hasilnya akan terlihat dengan jelas"
(Jalan Kesempurnaan 28.7)
Jenis rekoleksi yang ditulis oleh Santa Teresa sebagai kemungkinan bagi semua jiwa terjadi karena kita mengembangkan kebiasaan berdoa dengan cara ini. Cara apa? Kebiasaan untuk pergi ke dalam diri kita sendiri dan melakukannya berulang-ulang. Kebiasaan itu adalah satu hal untuk mematikan apapun yang mungkin menjadi sebuah gangguan dari dunia luar.
“Karena itu, setiap orang yang menempuh jalan ini hampir selalu menutup matanya saat ia berdoa” (Jalan Kesempurnaan 28.6). Mengapa ia menyarankan untuk menutup mata? Untuk menjaga diri dari gangguan. Pada waktu Santa Teresa, jika anda sendirian, gangguan eksternal yang datang dari dunia luar datang melalui mata. Di dalam dunia abad 21 ini, ada banyak orang lebih mungkin untuk terganggu. Kita memiliki radio, mp3 players, TV, internet, Facebook, Youtube dan cara-cara tak terhitung yang di dunia sekitar kita, yang bisa menghalangi kita dari pergi ke dalam diri. Kita harus menutup mata kita dan bahkan telinga kita.
Untuk memperoleh dan mengembangkan kebiasaan ini dituntut disiplin. Santa Teresa sangat “praktis” saat berbicara tentang rekoleksi dan ia menambahkan “untuk membiasakannya.” Rekoleksi sebagai tahap awal kehidupan rohani tidak hanya terjadi begitu saja. Disiplin menuntut kebajikan teresiana yang lain, “tekad yang beşar dan kuat” (Jalan Kesempurnaan 21.2).
Katekismus yang saya miliki sebagai seorang anak kecil menanyakan penanyaan ini: “Apa itü manusia?” Jawabannya adalah: “Manusia adalah satu ciptaan yang terdiri dari tubuh dan jiwa, yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah.” Katekismus itu didasarkan kepada katekismus Konsili Trente. Hal di dalam katekismus itu telah menjadi ide yang sama dengan defınisi yang dimiliki oleh Santa Teresa. Ia cukup jujur dalam mengakui kesulitannya untuk mengerti arti definisi itu. “Saya mengerti dengan baik bahwa saya memiliki sebuah jiwa. Tetapi hal yang layak bagi jiwa ini dan hal yang tinggal di dalamnya saya tidak mengerti karena saya telah menutup mata saya terhadap kesia-siaan dunia” (Jalan Kesempurnaan 28.11).
Semua kita bisa mengidentifıkasi diri kita dengan Santa Teresa saat dia mengatakan bahwa jika saat itu dia tahu hal yang sekarang diketahuinya, hal-hal itu akan menjadi berbeda. Saya bisa mengatakan bahwa dengan jelas tentang hal-hal yang saya ketahui. Tetapi sekarang saya tahu tentang hal yang sekarang saya ketahui. Kita semua tahu dengan lebih baik daripada yang kita tahu sebelumnya. Hanya seorang yang sangat keras kepala yang menolak untuk berubah saat menghadapi kenyataan-kenyataan baru. Yang benar adalah bahwa kita memiliki sebuah jiwa dan jiwa bukan sekadar elemen yang membuat kita hidup. Jiwa adalah kenyataan di dalam diri kita tempat Allah tinggal. “Jika saya telah mengerti seperti saya mengerti sekarang bahwa di dalam puri kecil jiwaku tinggal seorang Raja Besar, saya tak akan sering meninggalkan Dia” (Jalan Kesempurnaan 28.11).
“Surga kecil jiwa!” “Puri kecil jiwakul’ Betapa sebuah penghargaan beşar yang dimiliki Santa Teresa bagi umat manusia.
“Dan karena Ia tidak memaksa kehendak kita, Ia mengambil hal yang kita berikan kepadaNyak, tetapi Ia tidak memberikan diriNya seutuhnya sehingga kita memberikan diri kita seutuhnya” (Jalan Kesempurnaan 28.12)
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.212-214.