"Karena itu kita harus membebaskan diri kita dari segalanya sedemikian untuk mendekati Allah secara interior dan bahkan di tengah-tengah kesibukan yang menarik di dalam diri kita"
(Jalan Kesempurnaan 29.5)
Kadang-kadang saya telah memiliki pengalaman menjadi sangat sibuk atau ditekan oleh beberapa situasi saat saya merasa sedikit meluap-luap. Dalam situasi seperti itu, saat saya sedikit bersemangat atau khawatir, saya berkata kepada diri saya: “Whoa! Tenang! Tarik Nafas!” kemudian setelah satu menit, saya bisa kembali untuk melakukan hal yang perlu saya lakukan. Saat Santa Teresa menggunakan ungkapan “bahkan di tengah-tengah kesibukan” ia bermaksud menunjukkan situasi-situasi yang membuat orang menjadi sangat sibuk dan sibuk seperti itu. “Walaupun itu mungkin hanya beberapa saat, saya ingat bahwa saya memiliki Rekan di dalam diri saya, melakukan hal itu sangat bermanfaat” (Jalan Kesempurnaan 29.5).
Doa rekoleksi ini bukanlah sesuatu yang mengambil jam atau waktu kita. Maksud saya, mungkin ada waktu saat kita bisa tinggal untuk dihimpun pada suatu periode yang diperpanjang tetapi kita tidak bisa sering melakukannya sepanjang hari untuk mengingatkan diri kita, jika hanya untuk beberapa saat kita diingatkan bahwa kita berada di hadapan Allah. “Singkatnya, kita harus membiasakan diri untuk menikmati kenyataan bahwa tidak perlu berteriak untuk berbicara kepadaNya, karena Yang Mulia akan memberikan pengalaman bahwa Ia hadir” (Jalan Kesempurnaan 29.5).
Saat saya masih kecil saya bersekolah di sekolah Katolik dan diajar oleh para suster Santo Yosef. Kami mulai pelajaran jam 8.3O pagi. Di kelas, di meja seorang murid yang duduk di baris pertama, ada sebuah bel kecil. Saat jam menunjuk pukul 9.00 murid itu membunyikan lonceng entah apapun yang dilakukan oleh suster, dan berkata, ”Permisi Suster, permisi teman-teman. Inilah saat untuk memberkati waktu.” Kernudian suster menjawab: ”Marilah kita mengingat bahwa kita berada di hadapan AlIah yang kudus.” Dan semua murid menjawab dengan mengatakan: “Marilah kita menyembah Sri Baginda Ilahi.” Kemudian kami kernbali ke hal yang sedang kami lakukan. Murid itu memberikan lonceng ke orang lain di belakangnya dan pada pukul 10.00 kegitatan itu diulang. Kemudian pukul 11.00, 12.00, 1.00, dan 3.00. tujuh kali dalam sehari, setiap hari selama 8 tahun.
“Dengan cara ini kita akan berdoa vokal dengan lebih tenang dan setiap kesulitan akan terhapus.” (Jalan Kesempurnaan 29.6). Hal yang sedang kita lakukan dengan rekoleksi yang sering ini mengembangkan kebiasaan untuk mengingatkan diri kita bahwa Allah hadir, seperti arti nama Emanuel. Dengan mengembangkan kesadaran, saat kita mengucapkan doa vokal kita, kita semakin menyadari kehadiranNya di dalam diri kita. “Walaupun kita mungkin mendaraskan doa ini tidak lebih daripada satu kali dalam satu jam, kita bisa menyadari bahwa kita bersama Dia, menyadari hal yang sedang kita minta kepadaNya, menyadari kehendakNya yang diberikan kepada kita dan betapa Dia senang tinggal di dalam kita (Jalan Kesempurnaan 29.6).
Penting untuk dimengerti bahwa metode untuk masuk ke dalam doa rekoleksi ini adalah melalui doa vokal yang didoakan secara sederhana dan penuh perhatian. “Dengan metode ini kita akan berdoa vokal dengan lebih tenang, dan setiap kesulitan akan dihapus. Karena dalarn sejumlah kecil waktu kita berusaha untuk memaksa diri kita untuk dekat kepada Tuhan, Ia akan mengerti kita seolah-olah melalui tanda bahasa” (Jalan Kesempurnaan 29.5).
Dikutip dari buku: P. Aloysius Deeney, OCD, Renungan-Renungan Santa Teresa Dari Yesus dan Santo Yohanes Dari Salib,
(Yogyakarta: Nyala Cinta, 2022), hlm.216-218.